160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Kepala BPI Danantara Menghadap Presiden, Bahas Proyek Hilirisasi

Presiden Prabowo Subianto menerima Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani di Hambalang, Bogor, pada Minggu sore, 4 Januari 2026. (Foto: BPMI Setpres)
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Presiden Prabowo Subianto menerima Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani. Bahas perkembangan proyek hilirisasi.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa pertemuan tersebut digelar di kediaman pribadi Presiden Prabowo di Hambalang, Bogor, pada Minggu (4/1/2026).

“Minggu sore, Presiden Prabowo menerima Kepala Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, di Kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, 4 Januari 2026,” ujar Teddy.

Teddy mengutarakan pertemuan tersebut membahas tiga poin utama yang menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya adalah perkembangan lima titik proyek hilirisasi yang akan digarap oleh Danantara dan direncanakan akan memulai tahap groundbreaking pada awal Februari 2026.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Dalam pertemuan tersebut dibahas tiga poin yakni, perkembangan lima titik proyek hilirisasi oleh Danantara yang akan melakukan groundbreaking di awal bulan depan,” ungkapnya.

Proyek hilirisasi tersebut, kata dia, akan dilaksanakan di sejumlah provinsi di Indonesia dengan total investasi sebesar US$ 6 miliar atau sekitar 100 triliun rupiah.

Selain itu, imbuhnya, agenda strategis lainnya yang turut dibahas dalam pertemuan tersebut adalah perkembangan proyek Waste to Energy yang berfokus pada penertiban pengelolaan sampah. Pemerintah menaruh perhatian besar pada program ini karena dinilai mampu memberikan manfaat lingkungan sekaligus nilai tambah ekonomi.

“Perkembangan project Waste to Energy (Penertiban Pengelolaan Sampah) sehingga volume sampah terbuka tidak hanya berkurang namun akan sangat bermanfaat dari segi ekonomi,” imbuhnya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Namun, Teddy tidak secara spesifik menginformasikan lima titik proyek hilirisasi yang akan digarap oleh Danantara tersebut.

Mengutip laman Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, diinformasikan bahwa Indonesia mengundang para investor global untuk mengeksplorasi proyek hilirisasi di delapan sektor utama, didukung infrastruktur, insentif fiskal, dan peta jalan untuk transformasi industri yang berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia telah menyusun Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis untuk 28 komoditas di delapan sektor utama, dengan potensi nilai investasi mencapai US$ 618 miliar hingga tahun 2040.

Hilirisasi tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga untuk mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam secara berkelanjutan, memperkuat substitusi impor, dan menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi.

750 x 100 PASANG IKLAN

Adapun proyek unggulan yang ditawarkan Pemerintah Indonesia, yaitu:

1. Industri Katoda Baterai EV

Industri ini perlukan untuk mendukung percepatan transisi energi sesuai kerangka investasi hijau dan memenuhi komitmen Indonesia’s Enhanced Nationally Determined Contributions (ENDC), serta mendukung roadmap Hilirisasi Nikel untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan kendaraan listrik (electric vehicles/(EV).

Lokasi industri katoda baterai EV yang ditawarkan terletak di zona Heavy Industry Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah. KITB merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola PT Kawasan Industri Terpadu Batang.

Kawasan ini menyediakan utilitas dasar lengkap dan berorientasi keberlanjutan, seperti energi terbarukan, pengelolaan Water Treatment Plant (WTP), Wastewater Treatment Plant (WWTP) & Sewage Treatment Plant (STP), serta infrastruktur ramah lingkungan. Selain itu, tersedia fasilitas hunian bersertifikasi Greenship Neighborhood dan akses logistik efisien melalui Tol Trans Jawa dan Jalan Nasional Pantura.

2. Smelter Nikel Cobalt – Sulfat Industry For Batteries

Desa Lawaki, Kecamatan Tolala, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki potensi untuk menjadi pemasok bahan baku industri baterai Indonesia maupun dunia dengan kekayaan bijih nikel kadar rendah atau limonit. sumberdaya mineral nikel di Kabupaten Kolaka Utara sebesar ± 500 juta ton, dengan cadangan yang berasal dari 8 IUP di sekitar Kabupaten Kolaka Utara sebesar 159 juta ton (update: RKAB Dinas ESDM, Oktober 2020).

Sumberdaya mineral nikel ini dapat menunjang operasi smelter dengan produk Mixed Sulfide Precipitate (MSP), dengan kadar nikel 0,9 sampai 1,5 sementara kobalt dari 0,04 hingga 0,1. Teknologi yang digunakan adalah Hidrometalurgi High Pressure Acid Leaching (HPAL) dengan kapasitas produksi MSP sebesar 144.000 ton per tahun dan membutuhkan input produksi sebesar 4,3 juta ton bijih nikel limonit per tahun.

3. Industri Motor Listrik untuk Kendaraan Listrik

Proyek industri motor listrik untuk kendaraan listrik merupakan salah satu proyek strategis yang akan mewujudkan kemandirian ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dengan prospek investasi menjanjikan di masa mendatang dan mampu mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Proyek investasi prioritas ini menawarkan pembangunan fasilitas produksi dan penunjangnya, serta Research and Development (R&D) untuk motor listrik jenis Brushless Direct Current (BLDC) dengan lahan seluas 6 ha dan berlokasi di dalam salah satu kawasan industri terbaik se-Asia Tenggara, yaitu Greenland International Industrial Center (GIIC) di Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.

Kawasan yang memiliki luas area pengembangan 2.000 ha ini dilengkapi dengan fasilitas dan infrastruktur bertaraf internasional. Antara lain fasilitas pengolahan air bersih dan air limbah, suplai listrik dengan layanan premium dan alternatif sumber energi terbarukan, pasokan gas, serta jaringan telekomunikasi dan fiber optik yang sangat memadai.

Dengan kapasitas produksi motor BLDC untuk kendaraan listrik roda dua yang mencapai 96.000 unit per tahun dan motor BLDC untuk kendaraan listrik roda empat sebesar 12.000 unit per tahun, diperkirakan proyek investasi berkelanjutan ini akan berkontribusi positif memenuhi kebutuhan motor listrik untuk kendaraan listrik roda dua sejumlah 2,7 juta unit dan motor listrik untuk kendaraan listrik roda empat sebesar 660 ribu unit pada tahun 2030 di Indonesia.

Proyek ini juga untuk  mendukung target pengembangan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) dari Pemerintah Indonesia.

4. Industri Fatty Acid

Industri hilirisasi agro kelapa sawit berupa fatty acid (KBLI 20115) merupakan salah satu turunan dari oleokimia yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur, mengingat provinsi tersebut memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 1.208.697 ha dengan kapasitas produksi CPO 3,8 juta ton per tahun. Secara global konsumsi produk berbasis fatty acid dunia saat ini tumbuh sekitar 7 persen per tahun dengan kapasitas produksi yang cenderung tetap selama beberapa tahun terakhir.

Adapun demand Asia sebesar 6,6 juta ton per tahun dan Uni Eropa sebesar 1,7 juta ton per tahun. Namun, pemenuhan kebutuhan fatty acid tersebut baru mencapai 4,5 juta ton per tahun, sehingga terdapat peluang pasar fatty acid sebesar 3,8 juta ton per tahun.

5. Industri Pengolahan Logam Tembaga

Indonesia memiliki bahan baku copper cathode yang besar, mencapai 1,1 juta ton pada tahun 2026. Bahan baku ini hanya bisa diolah 50 persen saja di dalam negeri, sehingga Indonesia mengalami surplus bahan baku dan impor produk jadi seperti copper rod dan copper tube.

Industri hilirisasi logam tembaga ini nantinya akan diarahkan untuk memproduksi tiga produk akhir dengan bahan baku utama berupa katoda tembaga sebanyak 400.000 ton per tahun. KBLI yang digunakan adalah 24203 (Industri Penggilingan Logam Bukan Besi) dan 46620 (Perdagangan Besar Logam dan Bijih Logam).

Industri Pengolahan logam tembaga akan dibangun di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). JIIPE merupakan suatu kawasan industri terintegrasi yang terletak di Kabupaten Gresik. JIIPE telah berstatus sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik melalui Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2021, yang disahkan pada tanggal 28 Juni 2021, sehingga pendirian industri di dalam JIIPE akan memberikan banyak keuntungan baik dari segi insentif (fiskal dan non-fiskal) maupun kemudahan dalam perizinan.

Kegiatan utama di KEK Gresik berupa industri metal, kimia, elektronik, energi, pendukung dan logistik. Dengan lebih dari 3.000 ha, luasan lahan yang dibagi menjadi tiga bagian, yakni 1.761 ha lahan industri, 406 ha lahan pelabuhan, dan 800 ha lahan perumahan.

6. Industri Ban Pesawat Terbang dari Karet Alam

Indonesia merupakan penghasil karet alam terbesar kedua di dunia dengan produksi sebesar 3,2 juta ton per tahun. Sekitar 80 persen dari jumlah tersebut diekspor ke luar negeri dalam bentuk barang mentah. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen meningkatkan nilai tambah komoditas karet melalui diversifikasi produk, salah satunya ban pesawat terbang.

Industri ban pesawat terbang berpotensi menjadi industri pionir untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang selama ini masih impor.

Industri ban pesawat terbang dari karet alam akan berlokasi di Kertajati International Industrial Estate Majalengka (KIEM). KIEM berada di wilayah Segitiga Rebana yang diarahkan menjadi lokasi spesialisasi industri penerbangan. Kawasan ini didukung oleh fasilitas berupa air baku, listrik, gas alam, pengolahan limbah serta konektivitas Jalan Tol Trans-Jawa, Bandara Internasional Kertajati dan Pelabuhan Patimban.

Energi Baru Terbarukan 

Indonesia juga menawarkan peluang besar bagi investor global untuk berpartisipasi dalam salah satu transisi energi bersih paling menjanjikan di dunia. Dengan potensi energi terbarukan yang melebihi 3.600 gigawatt (GW) mencakup tenaga surya, air, bioenergi, angin, panas bumi, dan arus laut.

Sejalan dengan Peta Jalan Net Zero Emission (NZE) 2060 dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, program ini menargetkan peningkatan bauran energi terbarukan dari 12 persen pada tahun 2024 menjadi 34,3 persen pada tahun 2034, setara dengan tambahan kapasitas energi sebesar 42,1 GW. Transformasi ini menegaskan komitmen kuat Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan daya saing industri nasional di tingkat global.

Proyek energi baru terbarukan yang ditawarkan Pemerintah Indonesia, antara lain industri panel surya. Proyek ini merupakan pengembangan Industri Panel Surya ke Level 4 dalam rangka pemenuhan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Lokasi industri panel surya akan dikembangkan di Kabupaten Serang, tepatnya di Kawasan Industri Modern Cikande (KIMC) dengan total luas 3.170 ha dan infrastruktur yang memadai dan dapat menjadi penunjang sektor elektronika di KIMC.

Dengan adanya sektor hulu pada level 4 pada proyek ini, akan menjadi daya tarik produsen lokal panel surya dalam meningkatkan TKDN dan dapat bersaing dalam harga dengan luar negeri. Proyek ini memiliki kebutuhan luas lahan sebesar 2 hektar serta total investasi Rp 1,01 triliun dan payback period 4 tahun 5 bulan.

Berikutnya, industri bioetanol. Mengikuti kebijakan yang telah dilakukan oleh beberapa negara di dunia, Indonesia berencana untuk mengaplikasikan skema pencampuran bioetanol dalam bensin untuk mengurangi impor bahan bakar minyak sekaligus mengatasi isu lingkungan melalui transisi penggunaan energi baru terbarukan.

Berdasarkan rencana tersebut, diperlukan industri baru bioetanol dalam negeri untuk dapat memenuhi kebutuhan sektor bahan bakar nabati. Rencana pendirian industri bioetanol pada lahan seluas 10 ha di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Kawasan ini dipilih karena faktor ketersediaan sumber bahan baku, akses yang mudah menuju offtaker di Tuban, serta infrastruktur dan sumber daya lain yang mendukung.

Industri bioetanol baru ini mengutamakan bahan baku jagung sebagai bahan baku utama, bukan menggunakan molases/tetes tebu seperti industri bioetanol lain di dalam negeri. Jagung dianggap sebagai bahan baku paling potensial di antara bahan baku berpati lainnya.

Dengan kapasitas industri bioetanol sebesar 100 KTA diperlukan pipil jagung kering sebanyak 337.500 ton per tahunnya yang diperoleh dari penanaman jagung di lahan seluas 30.000 ha. Lahan yang diproyeksikan sebagai lahan tanam jagung adalah lahan nonproduktif milik Perum Perhutani sekitar area Bojonegoro, Tuban, Blora, dan Cepu. Skema kerja sama tiga arah (tripartite) antara Perum Perhutani sebagai pemilik lahan tanam jagung, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai perwakilan petani jagung, dan pihak investor sebagai pemilik usaha industri bioetanol dirancang agar pasokan pipil jagung kering untuk industri dapat terpenuhi secara stabil dan berkelanjutan serta tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan dan pakan.

Sebagai bahan bakar nabati (BBN) pencampur bensin, bioetanol direncanakan untuk diaplikasikan pada beberapa skema pencampuran antara lain A20 (15 persen metanol, 5 persen etanol), A6 (4 persen metanol, 2 persen etanol), maupun E5 (5 persen etanol).

PT. Pertamina (Persero) sebagai badan usaha yang mengedarkan bensin eceran akan menjadi offtaker utama bagi bioetanol dengan biofuel grade yang dihasilkan dari industri ini. Hasil samping industri bioetanol berupa Distilled Dried Grain with Soluble (DDGS) juga dapat dijual sebagai pakan ternak dengan protein tinggi. (Rif)

 

 

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !