6. Industri Ban Pesawat Terbang dari Karet Alam
Indonesia merupakan penghasil karet alam terbesar kedua di dunia dengan produksi sebesar 3,2 juta ton per tahun. Sekitar 80 persen dari jumlah tersebut diekspor ke luar negeri dalam bentuk barang mentah. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen meningkatkan nilai tambah komoditas karet melalui diversifikasi produk, salah satunya ban pesawat terbang.
Industri ban pesawat terbang berpotensi menjadi industri pionir untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang selama ini masih impor.
Industri ban pesawat terbang dari karet alam akan berlokasi di Kertajati International Industrial Estate Majalengka (KIEM). KIEM berada di wilayah Segitiga Rebana yang diarahkan menjadi lokasi spesialisasi industri penerbangan. Kawasan ini didukung oleh fasilitas berupa air baku, listrik, gas alam, pengolahan limbah serta konektivitas Jalan Tol Trans-Jawa, Bandara Internasional Kertajati dan Pelabuhan Patimban.
Energi Baru Terbarukan
Indonesia juga menawarkan peluang besar bagi investor global untuk berpartisipasi dalam salah satu transisi energi bersih paling menjanjikan di dunia. Dengan potensi energi terbarukan yang melebihi 3.600 gigawatt (GW) mencakup tenaga surya, air, bioenergi, angin, panas bumi, dan arus laut.
Sejalan dengan Peta Jalan Net Zero Emission (NZE) 2060 dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, program ini menargetkan peningkatan bauran energi terbarukan dari 12 persen pada tahun 2024 menjadi 34,3 persen pada tahun 2034, setara dengan tambahan kapasitas energi sebesar 42,1 GW. Transformasi ini menegaskan komitmen kuat Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan daya saing industri nasional di tingkat global.
Proyek energi baru terbarukan yang ditawarkan Pemerintah Indonesia, antara lain industri panel surya. Proyek ini merupakan pengembangan Industri Panel Surya ke Level 4 dalam rangka pemenuhan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).
Lokasi industri panel surya akan dikembangkan di Kabupaten Serang, tepatnya di Kawasan Industri Modern Cikande (KIMC) dengan total luas 3.170 ha dan infrastruktur yang memadai dan dapat menjadi penunjang sektor elektronika di KIMC.
Dengan adanya sektor hulu pada level 4 pada proyek ini, akan menjadi daya tarik produsen lokal panel surya dalam meningkatkan TKDN dan dapat bersaing dalam harga dengan luar negeri. Proyek ini memiliki kebutuhan luas lahan sebesar 2 hektar serta total investasi Rp 1,01 triliun dan payback period 4 tahun 5 bulan.
Berikutnya, industri bioetanol. Mengikuti kebijakan yang telah dilakukan oleh beberapa negara di dunia, Indonesia berencana untuk mengaplikasikan skema pencampuran bioetanol dalam bensin untuk mengurangi impor bahan bakar minyak sekaligus mengatasi isu lingkungan melalui transisi penggunaan energi baru terbarukan.
Berdasarkan rencana tersebut, diperlukan industri baru bioetanol dalam negeri untuk dapat memenuhi kebutuhan sektor bahan bakar nabati. Rencana pendirian industri bioetanol pada lahan seluas 10 ha di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Kawasan ini dipilih karena faktor ketersediaan sumber bahan baku, akses yang mudah menuju offtaker di Tuban, serta infrastruktur dan sumber daya lain yang mendukung.
Industri bioetanol baru ini mengutamakan bahan baku jagung sebagai bahan baku utama, bukan menggunakan molases/tetes tebu seperti industri bioetanol lain di dalam negeri. Jagung dianggap sebagai bahan baku paling potensial di antara bahan baku berpati lainnya.
Dengan kapasitas industri bioetanol sebesar 100 KTA diperlukan pipil jagung kering sebanyak 337.500 ton per tahunnya yang diperoleh dari penanaman jagung di lahan seluas 30.000 ha. Lahan yang diproyeksikan sebagai lahan tanam jagung adalah lahan nonproduktif milik Perum Perhutani sekitar area Bojonegoro, Tuban, Blora, dan Cepu. Skema kerja sama tiga arah (tripartite) antara Perum Perhutani sebagai pemilik lahan tanam jagung, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai perwakilan petani jagung, dan pihak investor sebagai pemilik usaha industri bioetanol dirancang agar pasokan pipil jagung kering untuk industri dapat terpenuhi secara stabil dan berkelanjutan serta tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan dan pakan.
Sebagai bahan bakar nabati (BBN) pencampur bensin, bioetanol direncanakan untuk diaplikasikan pada beberapa skema pencampuran antara lain A20 (15 persen metanol, 5 persen etanol), A6 (4 persen metanol, 2 persen etanol), maupun E5 (5 persen etanol).
PT. Pertamina (Persero) sebagai badan usaha yang mengedarkan bensin eceran akan menjadi offtaker utama bagi bioetanol dengan biofuel grade yang dihasilkan dari industri ini. Hasil samping industri bioetanol berupa Distilled Dried Grain with Soluble (DDGS) juga dapat dijual sebagai pakan ternak dengan protein tinggi. (Rif)