Jakarta,corebusiness.co.id-Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya menarik minat investor untuk terlibat dalam program gasifikasi batubara. Langkah meningkatkan nilai tambah batubara.
Kementerian ESDM mencatat realisasi kapasitas pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) dari gasifikasi batubara sekitar 450 megawatt (MW) hingga Desember 2025. Secara general, bauran energi dari EBT sepanjang tahun 2025 mencapai 15,75 persen, mengalami peningkatan dari capaian tahun 2024. Capaian Total kapasitas terpasang EBT sampai Desember 2025 sebesar 15.630 MW. Tambahan kapasitas di tahun 2025 ini merupakan yang terbesar selama 5 tahun terakhir.
Secara rinci realisasi kapasitas pembangkit EBT dari hidro sebesar 7.587 MW, bioenergi 3.148 MW, panas bumi 2.744 MW, surya 1.494 MW, gasifikasi batubara 450 MW, angin 152 MW, sampah 36 MW, dan lainnya sebanyak 18 MW.
Kementerian ESDM telah mengelompokkan program gasifikasi batubara dalam bentuk kluster. Di antaranya Kluster Kalimantan, Kluster Sulawesi-Maluku-Huadi, Kluster Nusa Tenggara, Kluster Papua Utara, dan Kluster Papua Selatan. Proyek ini untuk memenuhi kebutuhan gas oleh PLN yang akan bertambah seiring selesainya proyek gasifikasi pada akhir 2026.
“Melalui gasifikasi, penggunaan BBM dapat dikurangi sekaligus meningkatkan energi bersih. Program gasifikasi ini direncanakan menyasar 27 PLTMG dengan kapasitas total sekitar 2.269 MW,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu di Jakarta, tahun lalu.
Menurut Jisman, program konversi pembangkit diesel ke gas (gasifikasi) ini akan memberikan manfaat yang besar bagi negara dan juga memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Jisman lantas merinci total kapasitas tersebut terdiri atas 25 PLTMG eksisting yang telah beroperasi dengan total 999 MW, 1 PLTMG dalam tahap kontruksi dengan total 120 MW, dan 1 PLTMG Kluster Huadi dalam tahap perencanaan dengan total 1.150 MW.
Jisman menyebutkan keuntungan pembangkit listrk menggunakan gas, antara lain mengurangi impor minyak untuk menjaga neraca perdagangan, memberikan kontribusi nilai tambah dan multiplier effect bagi ekonomi rakyat di daerah, memenuhi komitmen Paris Agreement, serta pemenuhan target bauran energi dalam Kebijakan Energi Nasional.
Produk Turunan Gasifikasi
Indonesia adalah salah satu negara penghasil batubara terbesar di dunia, menempati posisi kelima setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Australia. Batubara tidak hanya digunakan untuk energi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), tapi juga gas.
Kandungan gas terdapat di balik lapisan batubara, yang disebut Coal Bed Methane (CBM). CBM adalah gas metana yang tersimpan di dalam lapisan batubara dan berpotensi menjadi sumber energi alternatif.
Istilah CBM ini merujuk kepada gas metana yang teradsorbsi (terserap) ke dalam matriks padat batubara. Gas ini digolongkan “sweet gas” lantaran tidak mengandung hidrogen sulfida (H2S).
Keberadaan gas ini diketahui dari pertambangan batubara di bawah permukaan bumi. Metananya berada dalam keadaan yang hampir cair di sekeliling dalam pori-pori batubara. Rekahan-rekahan terbuka di dalam batubaranya (yang disebut cleats) dapat pula mengandung gas atau terisi/tersaturasi oleh air.
Tidak seperti gas alam di reservoar konvensional, CBM sangat sedikit mengandung hidrokarbon berat seperti propana atau butana dan tidak memiliki kondensat gas alam. Ia juga mengandung beberapa persen karbondioksida.
CBM telah menjadi suatu sumber energi yang penting di Amerika Serikat, Kanada, dan beberapa negara lain. CBM bukan sekadar potensi, melainkan bagian penting dari strategi transisi energi nasional berbasis gas, yang semakin relevan di tengah dorongan global menuju energi bersih.
Merujuk pada data Kementerian ESDM (2022), potensi CBM Indonesia diperkirakan mencapai 450–453 trillion cubic feet (TCF), tersebar di beberapa cekungan utama, antara lain Sumatera Selatan, Barito, Kutai, dan Sumatera Tengah.
Sementara itu, Pakar Gasifikasi Indonesia Jamil Amir Baduwi mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah batubara dengan berbagai jenis. Dari batubara kalori rendah hingga batubara kalori tinggi.
“Cadangan batubara di negara ini sangat besar dan perlu dikelola sebaik mungkin. Jika row material batubara diproses lebih lanjut untuk menghasilkan varian produk turunan, maka akan memberikan nilai ekonomi yang sangat tinggi,” kata Jamil kepada corebusiness.co.id.
Vice President PT Amir Brother Gasification (PT ABG) tersebut mengutarakan, nilai tambah batubara tidak hanya berhenti dalam produk gas, namun juga produk turunan dari hasil gasifikasi. Ia mengklaim potensi market produk turunan hasil gasifikasi batubara sangat besar. Bahkan, untuk skala kebutuhan dalam negeri peluang marketnya sangat menjanjikan.
“Karena, Indonesia hingga saat ini masih impor metanol, amonia, DME, dan produk turunan gasifikasi batubara lainnya,” ungkap mantan Operation Manager PT Air Products Indonesia tersebut.
Melihat potensi-potensi tersebut, Jamil berharap Pemerintah Indonesia membuat kebijakan dan regulasi untuk memudahkan para pengusaha dan investor yang ingin membangun industri hilir batubara di Indonesia. (Syarif)