160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

AOE dan SDO 2025 Ajang Sembilan Kabupaten Ekspos Produk Lokal ke Panggung Global

750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) akan menggelar APKASI Otonomi Expo (AOE) dan Sustainable District Outlook (SDO) 2025 di ICE BSD City, Tangerang, pada 28 Agustus 2025.

Acara AOE dan SDO 2025 ini sekaligus merupakan ajang sembilan kabupaten anggota LTKL untuk menampilkan capaian, pembelajaran, serta sinyal perubahan menuju visi Kabupaten Lestari & Mandiri 2030.

Sembilan kabupaten tersebut, yaitu Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat; Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; Sanggau, Kalimantan Barat; Siak, Riau; Gorontalo, Gorontalo; Bone Bolango, Gorontalo; Musi Banyuasin, Sumatera Selatan; Aceh Tamiang, Aceh; serta Sigi, Sulawesi Tengah.

Mengusung tema “Kabupaten Bergerak: Inovasi Menuju Masa Depan Lestari dan Berdaya”, SDO 2025 menghadirkan diskusi tematik seputar kedaulatan pangan berkelanjutan, strategi adaptif menghadapi bencana hidrometeorologi, serta ekonomi lokal berbasis alam.

750 x 100 PASANG IKLAN

Inovasi-inovasi tersebut akan dibahas bersama pemerintah daerah, mitra strategis, akademisi, pelaku usaha, masyarakat sipil, hingga generasi muda yang menjadi penggerak penting transformasi di tingkat kabupaten.

“AOE 2025 tidak hanya hadir sebagai ajang promosi perdagangan, tetapi juga platform kolaborasi tata kelola komoditi lokal agar mampu bersaing di pasar internasional,” kata Direktur Eksekutif APKASI, Sarman Simanjorang, saat press briefing, Senin (25/8/2025).

APKASI meyakinkan bahwa ‘produk lokal mengglobal’ bukan hanya sebatas slogan, namun diikuti dengan strategi-strategi yang akan meningkatkan nilai serta produktivitas komoditas lokal di Indonesia.

“Kami ingin menjadikan AOE sebagai wadah transformasi daerah yang akan memastikan produk-produk unggulan daerah mampu memiliki daya saing internasional. Kesempatan ini bukan hanya untuk berbagi pengetahuan, namun kami memastikan ada sistem kurasi ketat dengan standarisasi tersendiri. Kami juga bermitra dengan kamar dagang Indonesia, diaspora serta buyer internasional untuk memperluas akses pasar,” tambah Sarman.

750 x 100 PASANG IKLAN

Sementara Kepala Sekretariat LTKL, Ristika Putri Istanti, menjelaskan pentingnya SDO 2025 sebagai sebuah wadah yang membawa local voices dari kabupaten untuk menunjukkan transformasi yang terjadi hingga ke tingkat tapak.

Putri menyebutkan, tahun ini pihaknya mengangkat tiga isu besar. Pertama, kedaulatan pangan. LTKL melihat banyak ekspansi dan pembukaan lahan terjadi karena kebutuhan pangan, padahal seharusnya daerah bisa mendorong kedaulatan pangan dengan cara yang berkelanjutan.

Kedua, ketahanan terhadap bencana, baik yang disebabkan faktor alam maupun akibat ulah manusia, seperti kebakaran hutan, banjir, hingga kejadian gempa bumi dan likuifaksi di Sigi pada 2018.

Ketiga, pembangunan ekonomi lestari. Sejalan dengan visi LTKL, kata Putri, kabupaten tidak hanya perlu menjaga ekosistem dan hutannya, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui pengembangan ekonomi yang tepat, termasuk bagi petani, UMKM, dan rantai nilai komoditas lokal.

“Ketiga tema ini berangkat dari urgensi sekaligus inisiatif yang sudah lama dibangun daerah secara kolaboratif,“ ungkapnya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Adapun Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi, Afit Lamakarte, memaparkan transformasi yang telah terjadi di Kabupaten Sigi dalam masa 8 tahun berproses bersama LTKL.

Afit menyampaikan bahwa Kabupaten Sigi merupakan bagian dari beberapa kabupaten yang memilih jalur pembangunan hijau dan berkelanjutan, yang diwujudkan melalui regulasi inovatif daerah, khususnya inisiatif Sigi Hijau.

“Komitmen ini berangkat dari kesadaran bahwa 72 persen wilayah Sigi adalah kawasan hutan yang harus dijaga, sambil tetap memastikan masyarakat dapat sejahtera dan naik kelas,” tutur Afit.

Berbicara mengenai ekspansi komoditas lokal, tentunya tidak bisa terlepaskan dengan kata kunci ‘kolaborasi multipihak’, dan salah satu pihak yang digandeng tentunya adalah sektor swasta yang akan membantu semakin memperluas jangkauan pasar bagi komoditas lokal.

Executive Director, Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), Ade Aryani mengutarakan keterlibatan SCOPI dalam salah satu sesi talkshow dalam SDO 2025, yaitu “Ragam Tana Kami: Menemukan Daya Ungkit Komoditas Lokal Lestari untuk Pasar Global”.

“Misi kami adalah mempromosikan kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam menciptakan peluang ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga keberlanjutan lingkungan bagi petani kopi di Indonesia. Bersama-sama, kami berkomitmen meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani kopi dengan menargetkan pengurangan kesenjangan pendapatan hidup sebesar 10 persen, sehingga bisa memberikan dampak nyata bagi 126 ribu petani kopi di Indonesia,” terangnya.

SCOPI, kata Ade, percaya setiap daerah memahami potensi wilayahnya masing-masing, dan banyak kabupaten memiliki lahan serta petani kopi yang potensial untuk dikembangkan.

“Karena itu, SCOPI ingin berperan dalam memajukan kabupaten-kabupaten penghasil kopi, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan akses pasar,” kata Ade. (Rif)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
ANINDYA

Tutup Yuk, Subscribe !