
Ketiga, pembangunan ekonomi lestari. Sejalan dengan visi LTKL, kata Putri, kabupaten tidak hanya perlu menjaga ekosistem dan hutannya, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui pengembangan ekonomi yang tepat, termasuk bagi petani, UMKM, dan rantai nilai komoditas lokal.
“Ketiga tema ini berangkat dari urgensi sekaligus inisiatif yang sudah lama dibangun daerah secara kolaboratif,“ ungkapnya.
Adapun Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi, Afit Lamakarte, memaparkan transformasi yang telah terjadi di Kabupaten Sigi dalam masa 8 tahun berproses bersama LTKL.
Afit menyampaikan bahwa Kabupaten Sigi merupakan bagian dari beberapa kabupaten yang memilih jalur pembangunan hijau dan berkelanjutan, yang diwujudkan melalui regulasi inovatif daerah, khususnya inisiatif Sigi Hijau.
“Komitmen ini berangkat dari kesadaran bahwa 72 persen wilayah Sigi adalah kawasan hutan yang harus dijaga, sambil tetap memastikan masyarakat dapat sejahtera dan naik kelas,” tutur Afit.
Berbicara mengenai ekspansi komoditas lokal, tentunya tidak bisa terlepaskan dengan kata kunci ‘kolaborasi multipihak’, dan salah satu pihak yang digandeng tentunya adalah sektor swasta yang akan membantu semakin memperluas jangkauan pasar bagi komoditas lokal.
Executive Director, Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), Ade Aryani mengutarakan keterlibatan SCOPI dalam salah satu sesi talkshow dalam SDO 2025, yaitu “Ragam Tana Kami: Menemukan Daya Ungkit Komoditas Lokal Lestari untuk Pasar Global”.
“Misi kami adalah mempromosikan kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam menciptakan peluang ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga keberlanjutan lingkungan bagi petani kopi di Indonesia. Bersama-sama, kami berkomitmen meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani kopi dengan menargetkan pengurangan kesenjangan pendapatan hidup sebesar 10 persen, sehingga bisa memberikan dampak nyata bagi 126 ribu petani kopi di Indonesia,” terangnya.
SCOPI, kata Ade, percaya setiap daerah memahami potensi wilayahnya masing-masing, dan banyak kabupaten memiliki lahan serta petani kopi yang potensial untuk dikembangkan.
“Karena itu, SCOPI ingin berperan dalam memajukan kabupaten-kabupaten penghasil kopi, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan akses pasar,” kata Ade. (Rif)