160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Pamigo dan PKS Mini Terintegasi: Peluang Milenial Panen Cuan dari Bisnis Sawit

Ir. Kusno Hadiutomo, M.M., penulis buku Membangun Pamigo dan PKS Mini Terintegrasi untuk Hilirisasi Kelapa Sawit di Perdesaan.
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Pembangunan Pabrik Minyak Goreng (Pamigo) dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Mini terintegrasi untuk hilirisasi kelapa sawit di perdesaan dinilai memberikan efek ganda. Didukung penerapan konsep usaha bisnis modern dan profesional, bisa jadi magnet bagi generasi muda milenial terjun langsung ke sektor ini.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang menggaungkan pembangunan sektor pertanian yang melibatkan generasi milenial. Saat ini sudah berjalan program Brigade Swasembada Pangan. Dalam program ini pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan), merekrut sekitar 4.224 tenaga muda dalam pengelolaan tanaman padi berbasis komunitas dengan penerapan teknologi modern.

Program ini tak hanya melahirkan generasi tenaga kerja baru di sektor pertanian dari kalangan generasi muda, tapi juga tersembul peluang memanen cuan. Setiap anggota Brigade Swasembada Pangan bisa meraup rezeki antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per bulan, jika pengelolaan lahan tanaman padi dilakukan secara lebih efisien dan produktif, dan mampu tanam dua hingga tiga kali dalam setahun.

Peluang rezeki ini juga bisa diaplikasikan di sektor tanaman sawit. Lebih-lebih Presiden Prabowo sedang menggeber capaian swasembada energi. Salah satunya, dengan memaksimalkan hasil crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit menjadi bahan baku solar dengan minyak sawit 50 persen atau Biodiesel 50 (B50).

750 x 100 PASANG IKLAN

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia. Mengutip buku: ‘Membangun Pamigo dan PKS Mini Terintegrasi untuk Hilirisasi Kelapa Sawit di Pedesaan, yang ditulis Ir. Kusno Hadiutomo, M.M, disebutkan bahwa pada tahun 2024 terdapat 22 provinsi yang berhasil mengembangkan perkebunan kelapa sawit, dengan total luas areal 16,83 juta hektare (ha). Dari angka luasan areal tersebut, produksi CPO mencapai 48 juta ton atau setara dengan 240 juta ton tandan buah segar (TBS) sawit.

Kusno Hadiutomo kemudian merincikan kepemilikan lahan dari luas areal 16,83 ha terdiri dari kepemilikan lahan perkebunan rakyat/swadaya seluas 7,1 ha (42 persen) serta perusahaan swasta dan BUMN seluas 9,8 juta ha (58 persen).

“Nilai ekspor CPO tahun 2024 sekitar 451,8 triliun rupiah, dan menyerap tenaga kerja langsung 4,2 juta orang dan tenaga kerja tidak langsung 12 juta orang,” kata Kusno Hadiutomo dalam bukunya tersebut.

Namun demikian, ungkap pria kelahiran Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, 23 September 1959, di balik nilai tambah hasil produksi kelapa sawit masih mengalami berbagai kendala, khususnya dihadapi petani rakyat/swadaya.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Petani rakyat masih kesulitan menjual hasil panennya, karena langkanya keberadaan pabrik pengolah tandan buah segar (TBS) yang membeli dan menampung hasil produksi petani,” ungkapnya.

Menurutnya, kalaupun ada pabrik kelapa sawit (PKS), jaraknya relatif jauh dari perkebunan sawit rakyat. Selain itu, PKS skala besar milik perusahaan swasta dan BUMN sebagian besar sudah mempunyai lahan kelapa sawit sendiri untuk bahan baku industri CPO, maupun produk hilir seperti minyak goreng, olein (refinery) serta produk turunannya semisal oleokimia dan biodiesel.

Jika masa panen raya pada musim hujan, harga TBS pekebun kelapa sawit rakyat dihargai relatif murah. Mau tidak mau petani menerima tawaran harga pembelian murah tersebut. Pasalnya, jika tidak segera dijual, dikhawatirkan TBS akan membusuk karena tingginya kadar air dan tingginya kelembaban udara.

Pamigo dan PKS Mini Jadi Solusi

750 x 100 PASANG IKLAN

Klik! Purna bakti Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Pertanian tahun 2024 tersebut menyampaikan solusi untuk memecahkan dilema yang dihadapi petani sawit rakyat. Menurutnya, salah satu solusi terbaik yang bisa menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan membangun Pamigo dan PKS Mini terintegrasi untuk hilirisasi kelapa sawit di perdesaan.

Kusno Hadiutomo menjelaskan, pembangunan Pamigo dan PKS Mini agar petani dapat menjual TBS dengan harga layak, produktivitas meningkat, memperoleh nilai tambah, dan daya saing produk kelapa sawit menjadi tinggi.

“Melalui pembangunan Pamigo dan PKS Mini di pedesaan, diharapkan Indonesia mampu mengubah posisinya dari “raja CPO” dunia menjadi “raja hilir” melalui tiga jalur hilirisasi, yakni oleofood (oleofood complex), oleochemical complex, dan biofuel complex,” tutur pria yang sudah mengabdi di beberapa badan dan direktorat jenderal di Kementan sejak 1986-2024.

Sarjana Teknologi Pertanian, Jurusan Mekanisasi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1983 tersebut menjabarkan, pembangunan Pamigo dan PKS Mini terintegrasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan peran petani sebagai pemasok CPO atau minyak goreng secara berkelanjutan dan hilirisasi kelapa sawit di pedesaan, dus “raja hilir” kelapa sawit dunia terwujud.

Untuk meningkatkan posisi tawar di dunia, kata dia, pola pengelolaan perkebunan sawit rakyat harus memenuhi prasyarat standardisasi internasional. Salah satunya, terlebih dulu mensertifikasi lahan perkebunan sesuai standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Ia mencatat, luas kebun sawit yang telah disertifikasi ISPO hingga 2024 mencapai 3,65 juta ha, dengan rincian 766 sertifikasi dengan produksi 22 juta ton CPO.

“Di pasar internasional keberadaan sertifikasi ISPO berpotensi tidak hanya memperluas akses pasar, tetapi juga meningkatkan potensi tawar dan harga produk minyak kelapa sawit,” ucap Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IPWI Jakarta tahun 2000.

Di samping sertifikasi ISPO, sambungnya, produk minyak goreng Pamigo dan PKS Mini perlu disertifikasi halal untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk, serta memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian produk halal bagi masyarakat dalam mengonsumsi sekaligus menggunakan produk halal.

Magnet bagi Milenial

Kusno Hadiutomo menyakini bahwa pembangunan Pamigo dan PKS Mini terintegrasi dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda milenial. Mereka terjun mengelola usaha tani perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit di perdesaan yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Tandan buah segar (TBS) sawit. Foto: dok. Kementan.

“Apalagi adanya dukungan teknologi mekanisasi alat mesin pertanian (alsintan) modern yang presisi (precision farming) dan pertanian cerdas (smart farming) dengan manajemen usaha agribisnis yang dikelola secara perusahaan/korporasi profesional,” katanya.

Lebih dari itu, Pamigo dan PKS Mini terintegrasi bisa menjadi semacam learning center bagi petani muda milenial untuk belajar bagaimana menjadikan lahan kelapa sawit mereka bukan sekadar untuk bercocok tanam menghasilkan TBS saja, melainkan juga sebagai lahan usaha yang menguntungkan secara berkelanjutan.

Dosen di Politeknik Engineering Pertanian (PEPI) BSD Serpong, Tangerang, Banten, tersebut lantas menganalisis biaya produksi usaha tani kelapa sawit. Ia mengestimasi rata-rata sebesar Rp 20.181.500. Jika produksi TBS 15 ton per ha dengan harga jual Rp 2.200 per kilogram (kg), maka pendapatan usaha tani perkebunan kelapa sawit rakyat sebesar Rp 33 juta per ha. Dengan demikian, keuntungan rata-rata Rp 12,82 juta per ha.

“Dengan benefit cost ratio (BCR) sebesar 1,64, maka usaha tani perkebunan kelapa sawit rakyat layak diusahakan,” ujarnya.

Untuk biaya operasi mesin Pamigo dan PKS Mini, diperkirakan Kusno Hadiutomo sekitar Rp 4,1 juta per jam atau Rp 10,3 juta per ton. Jika produksi minyak goreng kelapa sawit kemasan dijual Rp 18.000 per kg, maka akan mendapatkan keuntungan Rp 7.695 per kg.

Kusno Hadiutomo menjelaskan, dari hasil analisis kelayakan usaha bisnis Pamigo dan PKS Mini terintegrasi seluas 500 ha, dengan discount factor 12 persen per tahun, menunjukkan nilai Net Present Value (NPV) bernilai positif (NPV>0) sebesar Rp 34,9 juta lebih, nilai Net BCR 1,60, dan nilai Internal Rate of Return (IRR) 127 persen.

Mantan Konsultan Teknis di PT Naima Agro Industry Ltd dan PT Pramana Agro Resources tersebut memperkirakan, usaha bisnis Pamigo dan PKS Mini terintegrasi yang membutuhkan biaya investasi senilai Rp 5 miliar, mempunyai nilai payback period selama 1 tahun 4 bulan dan break even point (BEP) sebesar 9.334 ton atau 311 ha.

“Secara finansial, usaha bisnis Pamigo dan PKS Mini terintegrasi untuk hilirisasi kelapa sawit di perdesaan seluas 500 ha, dapat dinyatakan layak untuk dilaksanakan atau diusahakan ditinjau dari semua kriteria investasi yang digunakan,” pungkas Kusno Hadiutomo (Syarif).

 

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !