Informasi Lengkap DFSK E5 Plus, Klik: https://www.dfskmotors.co.id/Passenger/E5Plus.html
Jakarta,corebusiness.co.id-Harga minyak mentah sudah berada di bawah $100 per barel pada Selasa (6/10/2026) seiring meningkatnya ekspor minyak mentah Timur Tengah dan pelepasan cadangan darurat oleh negara-negara G7.
Berdasarkan data, seperti dilansir Reuters, aliran minyak dari Teluk, tidak termasuk Iran, melonjak hingga lebih dari 81% dari tingkat sebelum perang pada September 2026.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al Saud mengatakan, minyak yang dipompa melalui Pipa Timur-Barat, yang terkena serangan pesawat tak berawak bulan lalu, mencapai 5,8 juta barel.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun $2,77, atau 2,8%, menjadi $97,55 per barel pada pukul 13:02 waktu London, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka turun $2,15, atau 2,4%, menjadi $87,28.
Dewan Pengurus Badan Energi Internasional diperkirakan akan memutuskan pada pertemuan tanggal 14-15 Oktober mengenai rincian pelepasan stok diesel dan minyak mentah yang diumumkan oleh negara-negara Kelompok Tujuh pekan lalu, menurut dua orang sumber kepada Reuters.
“Untuk saat ini, asumsi bahwa lebih banyak minyak mentah akan masuk telah meredam antusiasme harga,” kata John Evans dari perusahaan pialang minyak PVM, merujuk pada data ekspor Timur Tengah.
Menurut Jhon, keberhasilan pasukan Yaman yang didukung Saudi dalam merebut kembali “tanah yang hilang” pendudukan tentara Houthi, berperan dalam menjaga keamanan Pipa Timur-Barat dan memberikan anggapan bahwa navigasi mungkin sedikit lebih bebas dari ancaman.
Senin kemarin, pasukan Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melakukan serangan untuk merebut kembali garis pantai di sekitar Selat Bab el-Mandeb hingga Kota Mocha. Hal ini meredakan kekhawatiran pasar tentang gangguan pasokan minyak.
Meskipun pasar tetap khawatir tentang potensi gangguan pasokan dari kawasan tersebut, produsen minyak Teluk terus beradaptasi dengan situasi di kawasan itu, kata analis ING dalam catatan Selasa.
“Kuwait mengatakan bahwa mereka memproduksi pada 75% dari tingkat sebelum perang, sementara Arab Saudi juga memangkas harga jual resmi Arab Light mereka ke Asia untuk pengiriman bulan November, sebuah tanda membaiknya gambaran pasokan,” demikian catatan ING.
Untuk lebih meredakan kekhawatiran pasokan, negara-negara G7 pada Jumat pekan kemarin, sepakat untuk melepaskan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat dan berjanji untuk menahan diri dari pembatasan ekspor energi setelah tekanan dari Presiden AS Donald Trump.
Namun demikian, konflik antara Arab Saudi dan pasukan Houthi terus memicu kekhawatiran tentang potensi gangguan pasokan.
Bandara Arab Saudi di Jazan dan Najran dihantam dalam dua serangan pada Senin malam, melukai tiga orang dan menyebabkan kerusakan terbatas, kata otoritas penerbangan Saudi, seiring meningkatnya permusuhan antara kerajaan dan Houthi. (Rif)