Oleh: Tulus Abadi
SETIAP 25 November diperingati sebagai “Hari Guru Nasional”. Peringatan ini menjadi penanda bahwa guru adalah “soko guru” bagi masyarakat, bukan hanya mencerdaskan siswa, tetapi juga membangun perilaku siswa yang lebih beradab dan menjunjung etika. Guru menjadi profesi yang amat strategis, bahkan mungkin paling strategis di antara profesi lain. Seorang guru idealnya bukan hanya mengajarkan disiplin ilmu tertentu saja, tetapi juga mengajarkan etika, dan moralitas pada siswanya, dan seluruh sivitas akademika di lingkungan sekolah.
Bahkan pada titik tertentu, guru juga menjadi benteng terakhir untuk mewujudkan spirit kesehatan publik, siswanya. Strategi seperti ini sangat penting, bukan hanya untuk menyuntikkan isu kesehatan publik pada siswanya saja, tetapi nanti akan bergulir/berlanjut pada orang tua siswa. Sebab diharapkan setelah siswanya terpapar isu kesehatan publik, lalu siswanya akan menyampaikan isu tersebut kepada orang tuanya, dan kepada seluruh anggota keluarganya.
Sebagai contoh, di Bogota Kolombia, anak anak TK diajari menaiki bus umum, saat Bogota melakukan modernisasi pengelolaan angkutan umum dengan Transmilenio, yang model ini kemudian dicontoh oleh Pemprov DKI Jakarta dengan Transjakarta-nya. Diharapkan anak anak TK tersebut akan menyampikan pada orang tuanya, bagaimana membeli tiket, harus antri, dan lain-lain. Demikian juga edukasi kebermanfaatan energi nuklir di Jepang dan Rusia, mereka juga melibatkan anak anak TK dalam edukasinya.
Oleh sebab itu, dalam konteks mengusung isu kesehatan publik, guru punya peran strategis, tak kalah strategisnya dengan penyuluh kesehatan di Puskesmas, bahkan tak kalah strategisnya dengan peran dokter dan ahli kesehatan masyarakat.
Lalu, isu apa yang musti diusung oleh seorang guru terkait kesehatan publik di lingkungan sekolah, wabil khusus pada siswa-siswanya? Minimal ada dua isu utama, yakni isu pengendalian konsumsi minuman manis dalam kemasan (MBDK), dan isu pengendalian konsumsi rokok. Ada beberapa alasan terkait kedua isu tersebut menjadi isu yang sangat penting.
Pertama, terdapat tren kuat anak anak yang makin gandrung mengonsumsi produk Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK). Survei YLKI 2022, membuktikan 25,7 persen anak anak di Indonesia gemar mengonsumsi MBDK. Sebabnya dua hal, harga produk MBDK tergolong murah meriah, dan produk MBDK mudah diakses, semua warung menyediakan/menjual produk MBDK.
Selain itu, kini juga menjamur kafe-kafe di berbagai tempat, termasuk di kota-kota kecil, yang menjajakan menu minuman berperisa, baik itu kopi, teh, atau buah-buahan. Tetapi esensi minuman yang dijual di kafe-kafe tersebut, dan juga produk MBDK; adalah minuman dengan kandungan gula yang sangat tinggi.