160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

BUKAN TANAH, MELAINKAN RAKYAT

750 x 100 PASANG IKLAN

Oleh: Arnaldo JR Soares

SAAT Domingos Soares berada di ambang hembusan napas terakhirnya, ia tidak berbicara tentang hal-hal remeh. Tidak tentang harta, tidak pula tentang kepentingan pribadi. Kepada anak-anaknya, ia menitipkan satu pesan yang berat namun jernih: lanjutkan perjuangan.

Pesan itu bukan amanah yang ringan. Terlebih di tengah keadaan yang serba rumit dan penuh prasangka seperti hari ini. Namun justru di saat-saat terakhir hidup, ketika waktu menjadi sangat berharga, manusia tidak akan menggunakannya untuk hal yang sia-sia. Ia tidak berkata, “jaga ibumu” atau “urus adikmu”–bukan karena itu tidak penting, tetapi karena ada sesuatu yang lebih besar yang ingin ia pastikan tidak ikut mati bersamanya.

Ia ingin agar perjuangan tetap hidup. Mungkin dalam hatinya terngiang kata-kata Arnaldo dos Reis Araujo: “Tiada bangsa yang berjuang demi masa depan yang lebih buruk.”

750 x 100 PASANG IKLAN

Kata-kata itu bukan seruan emosional, melainkan penanda arah. Apakah itu berarti soal Timor Timur akan kembali? Itu pertanyaan yang terlalu jauh dan bukan inti pembahasan hari ini. Perjuangan yang dimaksud bukan pertama-tama tentang tanah, batas wilayah, atau simbol politik. Fokus utamanya adalah rakyat. Karena tanah tanpa rakyat hanyalah ruang kosong. Dan perjuangan tanpa keberpihakan pada manusia akan kehilangan jiwanya.

Itulah makna pesan terakhir Domingos Soares: bahwa perjuangan sejati tidak diwariskan lewat kemarahan, melainkan lewat tanggung jawab untuk terus memikirkan rakyat–hari ini, esok, dan seterusnya.

Ayahanda saya, Domingos Soares sendiri bukan sekadar seorang manusia, melainkan sebuah kisah tentang kesetiaan, keberanian berpikir, dan cinta yang tulus kepada Bumi Loro Sa’e–tanah yang begitu mendarat daging dalam jiwanya. Domingos Soares adalah seorang Timoris sejati.

Kecintaannya pada tanah kelahiran tidak pernah pudar, bahkan ketika ia menuntut ilmu jauh di Portugal. Di negeri orang, kerinduannya menjelma puisi. Dengan nama pena Kolly, ia menulis bait-bait cinta untuk tanah airnya—puisi yang lahir dari kegelisahan, harapan, dan keyakinan akan martabat bangsanya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Ayah saya, Domingos Soares adalah seorang pejuang yang setia dan berani. Pejuang lintas benua yang pertama kali mewakili rakyatnya untuk disemayamkan di TMP Kalibata dan kami mensyukuri hal tersebut sedal jiwa kari.

Sejak awal perjuangan beliau di Portugal pada tahun 1974, ia aktif dalam gerakan para perwira muda untuk menumbangkan rezim Salazar di Portugal.  Kemudian mulai berperan dalam integrasi wilayah Timor Portugis ke dalam NKRI dan bergabung menjadi aktivis yang aktif dalam memperjuangkan ide integrasi melalui partai APODETI di Portugal.

Pages: 1 2
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !