
Alwien beruntung bisa langsung masuk ke Studienkolleg, yang ditempuhnya dalam kurun waktu setahun. Dia memilih program studi Teknik Mesin di Hochschule für Technik und Wirtschaft Berlin (HTW Berlin).
Nyambi Kerja
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Alwien memutuskan bekerja di sebuah perusahaan. Aktivitasnya sebagai karyawan di perusahan, ternyata agak menyulitkan dirinya membagi waktu untuk mengikuti kegiatan belajar di bangku kuliah. Tak ayal, pendidikannya pun sempat berantakan. Namun, lagi-lagi dia bangkit, dan mampu lulus dan mengejar gelarnya dari HTW Berlin.
’’Satu hal lagi yang membuat saya beruntung, saat itu, angka kelulusan mahasiswa Indonesia di Jerman sangat rendah. Di bawah 30 persen. Angka kelulusan anak-anak Indonesia yang mengikuti Studkoll juga memprihatinkan. Dari sepuluh anak, bisa ada tiga yang tidak lulus,’’ ungkapnya.
Atas dasar itulah, pada 2012, dia bersama seorang rekannya memberanikan diri untuk menggagas sebuah gerakan sosial yang disebut Gerakan Indonesia Peduli (GIP). GIP adalah semacam kursus untuk anak-anak Indonesia yang akan tes masuk Studkoll.
Alwien menjelaskan, biaya operasional untuk menyewa tempat kursus itu dipungut dari dana pribadinya hingga patungan dari beberapa orang. Para tutor yang mengajar juga adalah mahasiswa Indonesia atau siswa Studkoll yang mau bekerja secara sukarela pada akhir pekan.
Dalam perjalanannya, GIP sempat berpindah-pindah tempat. Bahkan suatu waktu mereka sempat menyewa di tempat sirkus. Pernah juga mereka bermasalah dengan hukum di Jerman.
’’Waktu itu saya sudah jadi tenaga honorer di KBRI Berlin, tempat kami sempat didatangi polisi karena mereka menganggap kami melakukan aktivitas ilegal, menggunakan rumah tinggal tidak sesuai dengan peruntukannya,’’ ungkap Alwien.
Namun, dari kejadian itulah, dia pun mulai berpikir, mau dibawa ke mana GIP? Lalu dia pun sampai pada kesimpulan untuk melegalkan GIP. Tidak bisa terus-terusan menjadi sebuah gerakan underground.