Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia harus menjadi bangsa yang waspada. Bangsa yang selalu mau mengoreksi diri. Bangsa yang selalu berani menghadapi segala keadaan. Ia paham Indonesia adalah bangsa yang kaya sumber daya alam (SDA).
“Tapi harus saya katakan, saya prihatin, saya sedih dengan kenyataan bahwa banyak kekayaan SDA yang tidak pandai kita kelola. Sehingga banyak kekayaan kita yang bocor. Saya tidak dapat menerima di akal sehat dan di hati saya. Bagaimana negara yang begini makmur, tetapi kekayaan (alamnya) kurang dinikmati oleh sebagian besar oleh rakyat Indonesia. Kita bergantung kepada bangsa lain untuk pangan kita. Kita impor, impor, impor pangan,” paparnya.
Ketua Umum Partai Gerindra tersebut juga menyampaikan rasa prihatin selama puluhan tahun para petani dan nelayan kurang dihormati, kurang dibela, dan kurang dilindungi. Karenanya, ketika dirinya tak lagi aktif di TNI dan menerima ajakan menjadi Ketua Umum HKTI, tanpa ragu-ragu dia terima ajakan itu.
Bagi Prabowo, ajakan sebagai Ketum HKTI dijadikan momen untuk membela dan memperjuangan nasib para petani dan nelayan Indonesia. Menurutnya, jasa para petani dan nelayan sangat besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Baik di masa pra dan pascakemerdekaan RI.
“Hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting, kita kembali swasembada pangan. (Karena) tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan (saja) tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin suatu bangsa merdeka kalau makan pangan tergantung bangsa lain,” pungkasnya bangga. (Rif)