
Berdasarkan total produksi tahunan yang disebutkan di atas sebesar 180.000 mt (kandungan logam), larangan selama empat bulan tersebut diperkirakan akan berdampak pada sirkulasi sekitar 60.000 mt (kandungan logam) sumber daya kobalt. Jika kita hanya berfokus pada larangan ekspor selama empat bulan, pasokan bahan baku kobalt yang ketat dalam jangka pendek diantisipasi, yang dapat meningkatkan harga jangka pendek dan mendorong penyerapan persediaan di berbagai saluran di pasar spot.
Dampak Jangka Menengah dan Panjang
SMM juga menganalisis dampak harga kobalt jangka menengah dan jangka panjang, tergantung dari penerapan kebijak DRC selanjutnya. Selain itu, SMM menyebutkan ada faktor-faktor utama yang perhatian. Pertama, tingkat penumpukan inventaris yang bervariasi di berbagai segmen. menurut data SMM, inventaris kobalt olahan, yang telah menunjukkan kinerja laba terbaik dari tahun 2023 hingga 2025, mengalami penumpukan inventaris yang signifikan selama dua tahun terakhir.
Sebaliknya, kobalt sulfat dan Co3O4, yang telah menunjukkan kinerja laba yang lebih lemah, sebagian besar mempertahankan tren pengurangan stok atau keseimbangan yang ketat. Perbedaan dalam struktur penawaran dan permintaan di antara berbagai produk kobalt dapat menyebabkan berbagai tingkat dukungan harga.
Kedua, proporsi kontrak jangka panjang yang rendah. Karena penurunan harga kobalt yang berkepanjangan, proporsi kontrak jangka panjang yang terkait dengan produk kobalt (misalnya, kontrak jangka panjang untuk garam kobalt dengan sumber daya kobalt, dan untuk pabrik prekursor katode terner dengan garam kobalt) tetap relatif rendah. Di bawah fluktuasi harga yang signifikan, proporsi pesanan spot yang tinggi akan semakin memperkuat volatilitas harga.
Ketiga, ketidaksesuaian struktural antara pasokan dan permintaan bahan baku kobalt. Perusahaan-perusahaan terintegrasi terkemuka, melalui berbagai saluran, seperti MHP dan daur ulang, memiliki cadangan bahan baku yang relatif cukup. Namun, beberapa produsen lapis kedua dan ketiga serta perusahaan-perusahaan non-terintegrasi masih sangat bergantung pada pembelian bahan baku dari luar. Dalam konteks ini, mereka terpaksa menerima bahan baku dengan harga tinggi, yang akan mendukung harga produk kobalt dari sisi biaya.
Keempat, pasokan kobalt yang signifikan dari MHP Indonesia. Dari perspektif produksi MHP, menurut data pemrosesan SMM, produksi MHP Indonesia pada tahun 2024 sekitar 315.000 mt (mengandung Ni), dengan kandungan kobalt sekitar 35.000 mt (kandungan logam).
Mempertimbangkan peluncuran proyek baru dan pelepasan kapasitas, produksi MHP Indonesia pada tahun 2025 diharapkan mencapai sekitar 447.000 mt (mengandung Ni), dengan kandungan kobalt sekitar 50.000 mt (kandungan logam), memberikan beberapa suplementasi untuk pasokan sumber daya. (Rif)