160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

“Bermain Angka” di Balik Naiknya Harga Bijih Nikel Global

750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Transaksi harga nikel yang ditawarkan di bursa berjangka London Metal Exchange (LME) US$ 18.525 per dry metric ton (dmt), pada Selasa (27/1/2026), pukul 11.03 waktu Indonesia, tembus di angka US$ 18.520 per dmt.

Memasuki tahun 2026, harga nikel global terus menaiki anak tangga. Harga nikel kontrak tiga bulan di LME naik signifikan dari level terendah US$14.235 per ton pada pertengahan Desember menjadi puncak US$18.905 per ton pada 14 Januari. Hingga Selasa ini, harga nikel gobal masih bertengger di atas US$ 18.00 per dmt.

Namun, seperti dikutip Reuters, di balik reli harga nikel tersebut, terdapat kompleksitas data dan kebijakan yang membuat pasar sejatinya masih “bermain angka”. Dalam hal ini, harga bergerak berdasarkan interpretasi angka-angka kebijakan dan statistik yang belum tentu mencerminkan perubahan pasokan nyata di lapangan.

Reli harga nikel dipicu oleh pernyataan pejabat di Kementerian ESDM atas kebijakan pemangkasan izin penambangan tahunan menjadi sekitar 250–260 juta ton bijih basah dari 379 juta ton pada 2025.

750 x 100 PASANG IKLAN

Kebiajakan tersebut dinilai krusial, karena Indonesia sebagai produsen bijih nikel terbesar dunia–menyumbang sekitar 65 persen pasokan nikel global, dan dalam dua tahun terakhir, menjadi sumber utama kelebihan pasokan yang menekan harga. Langkah Pemerintah Indonesia—memangkas produksi bijih nikel—mendapat sinyal positif oleh pasar global. Ternyata, harga bijih nikel global mulai terkerek naik.

Di balik reli harga bijih nikel, analis menilai pemangkasan angka kuota tersebut tidak sesederhana yang terlihat. Kuota penambangan Indonesia dinyatakan dalam ton basah, harus dilakukan proses lanjutan untuk dikonversi menjadi unit nikel yang benar-benar dapat dipulihkan.

“Maksud dipulihkan adalah jumlah logam nikel murni yang benar-benar bisa diekstraksi dan dimanfaatkan secara ekonomi dari bijih yang ditambang, bukan sekadar berat bijihnya,” demikian analis seperti dikutip Reuters.

Diungkapkan, kandungan air dalam bijih nikel dapat mencapai hingga 40 persen, sehingga volume aktual logam yang dihasilkan sangat bergantung pada kualitas material. Selain itu, baik pemerintah maupun operator tambang tidak secara rutin mempublikasikan data resmi produksi dan realisasi kuota. Minimnya transparansi ini menyulitkan pelaku industri dalam menilai keseimbangan pasokan dan permintaan secara akurat.

750 x 100 PASANG IKLAN

Fakta lain, kuota tahun lalu lebih tinggi dibandingkan produksi aktual. Menurut catatan Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), total permintaan bijih oleh fasilitas pengolahan domestik pada 2025 sekitar 300 juta ton basah. Angka tersebut bahkan sudah mencakup impor bijih dari Filipina yang mencapai 14 juta ton dalam 11 bulan pertama 2025, berdasarkan data Biro Statistik Logam Dunia. Artinya, pemangkasan kuota tahun ini memang akan menekan pasokan, tetapi tidak sedrastis yang tercermin dalam headline pasar.

FINI memperkirakan permintaan bijih untuk kebutuhan peleburan akan meningkat menjadi 340–350 juta ton pada tahun ini. Kenaikan tersebut mencerminkan ekspansi kapasitas pengolahan yang masih berlangsung di Indonesia, sejalan dengan strategi hilirisasi mineral pemerintah.

Kondisi ini berpotensi menciptakan kesenjangan antara pasokan bijih yang dibatasi kuota dan kebutuhan smelter, yang hanya sebagian dapat ditutup melalui impor atau penarikan stok.

Menurut analis, pemerintah Indonesia menghadapi dilema kebijakan: bagaimana menahan pasokan bijih agar tidak kembali menekan harga global, tanpa menghambat proyek smelter yang sudah beroperasi atau tengah meningkatkan kapasitas.

750 x 100 PASANG IKLAN

Sementara itu, lembaga keuangan JP Morgan menilai manfaat awal akan dirasakan lebih dulu oleh penjualan bijih di sektor hulu, setelah itu produk setengah jadi seperti nikel pig iron (NPI) diperkirakan baru akan mengalami kenaikan harga setelah peleburan nonterintegrasi mulai menutup kapasitas produksi akibat meningkatnya biaya bahan baku bijih nikel. (Rif)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !