Jakarta,corebusiness.co.id-Penjualan whole sales mobil segmen ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) tahun 2025 mengalami kontraksi 31 persen. Toh, Toyota dan Daihatsu tetap percaya diri merevisi harga jual varian LCGC.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan penjualan mobil nasional berada di kisaran 850 ribu unit, atau meningkat sekitar 5,4 persen dibandingkan realisasi 2025. Meskipun demikian, pemulihan pasar domestik berlangsung secara bertahap seiring tantangan daya beli, pembiayaan, dan dinamika rantai pasok global.
Sepanjang 2025, penjualan whole sales tercatat 803.687 unit atau turun 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara penjualan ritel turun 6,3 persen menjadi 833.712 unit. Di sisi lain, ekspor kendaraan utuh meningkat 9,7 persen menjadi 518.212 unit, menunjukkan bahwa daya saing Indonesia sebagai basis produksi otomotif global tetap terjaga, meskipun industri menghadapi dinamika permintaan domestik dan global.
Pada segmen tertentu, kendaraan murah dan ramah lingkungan atau LCGC mengalami tekanan dengan penurunan penjualan lebih dari 30 persen sepanjang 2025. Karena itu, pemerintah tetap memberikan perhatian melalui skema insentif fiskal yang efektif untuk mendukung pemulihan segmen ini.
Seperti diketahui, untuk segmen LCGC pemerintah membuat kebijakan Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang telah berjalan sebelumnya. Melalui skema ini, LCGC tetap mendapatkan insentif berupa tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 3 persen. Insetif ini direncanakan berlaku dalam jangka panjang hingga 2031.
Berdasarkan data yang diterima corebusiness.co.id dari Ketua Pengembangan Pasar Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D. Sugiarto, produksi mobil LCGC tahun 2025 sebanyak 155.534 unit, atau turun 24 persen dibandingkan produksi tahun 2024 sebanyak 204.061 unit.
Sementara penjualan whole sales LCGC tahun 2025 sebanyak 122.686 unit, atau turun 31 persen dibandingkan penjualan tahun 2024 sebanyak 176.766 unit.