Jakarta,corebusiness.co.id-Shanghai Metal Market (SMM) melaporkan bahwa selama selama setahun terakhir, terjadi pergeseran signifikan dalam komposisi ekspor kendaraan listrik baru (new energy vehicle/NEV) China. NEV kategori plug-in hybrid vehicle (PHEV) tumbuh jauh lebih cepat daripada battery electric vehicle (BEV). Khususnya di pasar Eropa. Bagaimana di Indonesia?
Sebagai informasi, BEV adalah kendaraan yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik dari baterai dan tidak menghasilkan emisi. Sementara PHEV adalah gabungan mesin bensin dan motor listrik, sehingga bisa diisi ulang dan beroperasi dengan listrik maupun bahan bakar.
SMM menganalisis, pergeseran komposisi ekspor dari BEV ke PHEV bukanlah anomali jangka pendek, maupun sekadar cerminan preferensi konsumen. Sebaliknya, kondisi ini merupakan hasil faktor struktural yang mencakup kebijakan, infrastruktur, dinamika biaya, dan perilaku pengguna akhir di pasar luar negeri.
Dari sisi kebijakan, SMM mengungkapkan, hambatan regulasi yang lebih rendah untuk PHEV dinilai menjadi variabel penting dalam keputusan ekspor kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Di pasar seperti Eropa, langkah-langkah perdagangan yang menargetkan BEV China—termasuk investigasi antisubsidi dan penyesuaian tarif potensial—telah meningkatkan ketidakpastian seputar ekspor BEV.
Sebaliknya, PHEV sering kali tidak sepenuhnya tunduk pada kerangka regulasi yang sama, sehingga menghasilkan risiko kepatuhan dan tarif yang lebih rendah dalam jangka pendek. Bagi produsen mobil, perbedaan ini penting. Strategi ekspor dioptimalkan tidak hanya untuk potensi permintaan, tetapi juga untuk prediktabilitas regulasi. Dalam konteks ini, PHEV menawarkan jalur yang relatif lebih aman untuk mempertahankan volume luar negeri sambil mengurangi risiko penurunan yang digerakkan oleh kebijakan.
Dari realitas infrastruktur, fasilisitas pengisian daya masih sangat tidak merata di berbagai pasar global. Lain halnya di China. Kota-kota besar di China menikmati jaringan pengisian daya yang padat dan andal. Sementara banyak wilayah luar negeri—termasuk di beberapa bagian Eropa, Asia Tenggara, dan pasar berkembang—terus menghadapi kesenjangan dalam ketersediaan pengisian daya publik, cakupan pengisian cepat, dan transparansi harga.
“BEV pada dasarnya bergantung pada kesiapan infrastruktur. Ketika akses pengisian daya tidak pasti, kecemasan penggunaan menjadi hambatan adopsi yang material,” demikian dilaporkan SMM, Senin (26/1/2026).
Sebaliknya, PHEV memisahkan elektrifikasi dari kelengkapan infrastruktur. Mereka memungkinkan konsumen mengandalkan jaringan bahan bakar yang ada untuk penggunaan jarak jauh atau darurat, sambil tetap menikmati manfaat berkendara listrik dalam skenario perkotaan dan jarak pendek. Model energi jalur ganda ini secara signifikan meningkatkan penerimaan pasar di wilayah-wilayah di mana pengembangan infrastruktur tertinggal dari ambisi elektrifikasi kendaraan.
Berikutnya perilaku konsumen. Seiring transisi NEV dari adopsi dini ke penetrasi pasar massal, pengambilan keputusan konsumen menjadi lebih pragmatis. Pembeli luar negeri semakin fokus pada kepastian penggunaan, keandalan, dan fleksibilitas, alih-alih spesifikasi teknis utama.