Jakarta,corebusiness.co.id-Lina Karlina, seorang pasien rhinoplasty didampingi kedua kuasa hukumnya, Jhon Saud Damanik, S.H., dan Irwana Onassis, S.H., mendatangi penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya (PMJ) Jakarta, pada Senin, 2 Maret 2026. Penyidik meminta keterangan Lina terkait dugaan malapraktik yang dilakukan dokter SFZ di klinik kecantikan Urluxe.
Sebelumnya, Senin, 23 Februari 2026, penyidik Ditreskrimsus PMJ telah meminta keterangan Jhon Saud Damanik, S.H., selaku kuasa hukum Lina Karlina terkait laporan dengan register perkara Nomor: LP/B/153/I/2026/ SPKT/POLDA METRO JAYA, tanggal 7 Januari 2026. Senin ini, tahapan penyelidikan dilanjutkan terhadap Lina selaku pelapor atas dugaan tindakan malapraktik dokter SFZ di klinik Urluxe.
Lina tiba di PMJ dari Purwakarta sekira pukul 10.30 WIB didampingi sang suami CND dan rekannya PJ. Lina dimintai keterangan penyidik terkait proses operasi hidung (rhinoplasty) pertama di klinik Urluxe, penanganan perawatan, pembukaan gip (penyangga), hingga jahitan di hidung.
“Setelah menjalani operasi pada 16 Juni 2025, hidung saya terus mengeluarkan darah. Semula saya menganggap biasa saja. Namun, saya merasa cemas karena darah terus menerus keluar dari hidung saya,” tutur Lina kepada corebusiness.co.id.
Lina pun menghubungi pihak klinik Urluxe. Ia kemudian disarankan kembali esok harinya, 17 Juni 2026, untuk dilakukan perawatan hidung.
“Ketika dilakukan perawatan, hidung saya hanya dioleskan salep dan disarankan membeli obat sinshe untuk mengeringkan luka di hidung,” ucap Lina.
Namun, pascaperawatan hidungnya tetap mengeluarkan darah, bengkak dan bernanah. Oleh suster NML dari pihak klinik, Lina diminta kembali pada 20 Juni 2025 untuk dilakukan pembukaan gip. Alih-alih bentuk hidungnya menjadi mancung, Lina merasakan kekecewaan.
“Setelah gip dibuka dibuka, bentuk hidung saya miring, luka di hidung saya pecah dan mengeluarkan cairan nanah, hidung saya jadi cacat,” ungkapnya.
Lina kembali menghubungi pihak klinik, kemudian disarankan kembali pada 23 Juni 2025 untuk dilakukan pembersihan luka di hidungnya. Tindakan berikutnya, pada 30 Juni 2025, luka di hidung Lina dijahit oleh dokter SFZ.
Sang suami, CND mengutarakan kondisi istrinya, Lina, setelah mengalami kegagalan operasi hidung di klinik Urluxe.
“Efek dari luka yang dialami di hidungnya, istri mengalami kesulitan berbicara dan susah menelan makanan. Tidur pun tharus menggunakan penyangga di bagian lehernya, karena hidungnya bengkak dan masih mengeluarkan darah,” kata CND.
Sementara itu, Jhon Saud Damanik selaku kuasa hukum Lina menuturkan ihwal kliennya menjadi pasien rhynoplasti klinik Urluxe setelah mendapatkan informasi dari media sosial TikTok oleh seseorang atas nama SM (agen). Kemudian kliennya menghubungi SM dan mencari informasi lebih lanjut terkait dengan operasi hidung.
SM menyarankan Lina membayar down payment (DP) sebesar Rp 2 juta ke rekening atas nama AN, apabila memang serius ingin melakukan perawatan ataupun operasi hidung. Setelah membayar DP, kliennya diarahkan untuk berkomunikasi dengan admin klinik Urluxe untuk melakukan pengisian formulir dan penentuan tanggal pelaksanaan operasi.
“Admin klinik Urluxe menentukan jadwal operasi hidung saya pada 16 Juni 2025. Pada saat yang sama, kliennya juga juga melakukan pelunasan atas biaya operasi tersebut sebesar Rp 25.100.000,” kata Jhon.
Jhon mengungkapkan keganjilan manajemen klinik Urluxe dalam penanganan operasi hidung kliennya. Menurutnya, sebelum tindakan operasi dilakukan pihak klinik tidak melakukan pengecekan kesehatan, uji laboratorium, dan tindakan medis lainnya, sebagaimana prosedur yang dilakukan pihak klinik kesehatan profesional.
Ketika jadwal operasi sudah ditentukan, lanjut Jhon, kliennya disarankan menemui seorang suster berinisial NML. Suster tersebut memberikan Lina pakaian operasi, dan langsung mengantarkan ke lantai 3 untuk dilakukan operasi yang dilakukan dokter SFZ.
“Klien saya sempat meminta pertanggungjawaban pihak klinik atas kondisi hidungnya yang mengalami kecacatan. Namun, tiba-tiba pihak klinik terus menghindar. Alasannya, dokter SFZ yang melakukan tindakan operasi klien saya sedang menjalankan ibadah umroh,” tukas Jhon.