160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

Sri Mulyani: Kebijakan Tarif Trump Bukan Pilihan Optimal untuk Indonesia

Sri Mulyani saat menjadi narasumber di program Podcast Oxford Policy Pod.. Foto: Screenshot Podcast Oxford Policy Pod.
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Mantan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati merespons ketentuan tarif timbal balik (resiprokal) yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk Indonesia. Ia menyebut, kebijakan itu tidak lazim, lantaran dibuat oleh satu negara tapi untuk global.

Sri Mulyani memulai karier barunya sebagai dosen di Oxford University tahun ini. Selama setahun, ia akan mengajar di Blavatnik School of Government sebagai World Leader Fellow di Universitas Oxford.

Eks bendahara negara Pemerintah Indonesia tersebut, pada Jumat, 20 Februari 2026, muncul sebagai narasumber di program Podcast Oxford Policy Pod. Salah satu pertanyaan yang diajukan Mark, host podcast, adalah pandangan Sri Mulyani terhadap kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia yang telah ditandatangani Presiden Donald Trump dan Presiden Prabowo Subianto, pada Kamis, 19 Februari 2026.

Mark mengeluarkan catatan ketika Sri Mulyani masih menjabat Menkeu, sempat menolak tarif Trump yang disebutnya “kebijakan beracun”.

750 x 100 PASANG IKLAN

“Pelajaran apa saja yang dapat Anda ambil dari perubahan besar dalam kebijakan perdagangan internasional yang baru saja kita saksikan. Dan, bagaimana seharusnya negara-negara berpenghasilan menengah dan badan-badan regional di Asia dalam menavigasi aturan main baru Trump?,” tanya Mark kepada Sri Mulyani.

Sri Mulyani menjawab. Menurutnya, semua pemimpin dan pejabat negara di dunia sudah sudah terbiasa dengan sistem kerja sama multilateral terkait perjanjian perdagangan dan investasi yang dikoordinasikan dan dipimpin oleh Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).

Ia mengakui ketentuan dalam sistem kerja sama untuk skala multilateral bidang perdagangan dan investasi yang diterapkan WTO dinilai belum sempurna. Masih ada masalah yang perlu diselesaikan. Tapi, ketentuan yang diberlakukan WTO telah disepakati berdasarkan konsensus oleh seluruh negara anggota.

Sebagai informasi, WTO adalah organisasi internasional yang bertujuan mengawasi dan mengatur perdagangan internasional. WTO berperan dalam membuka perdagangan antarnegara dengan mengurangi atau menghilangkan hambatan tarif dan nontarif.

750 x 100 PASANG IKLAN

Organisasi ini dibentuk melalui perjanjian yang melibatkan hampir semua negara di dunia, dan keputusan diorganisasi ini diambil melalui konsensus atau kesepakatan bersama dari seluruh anggota. Tercatat pada 2023 ada 164 negara anggota WTO, termasuk AS dan Indonesia.

“Namun, dengan diberlakukannya tarif perdagangan oleh AS, dalam hal ini (dilakukan) secara sepihak, hal itu sebenarnya telah mengubah seluruh sistem berbasis aturan, yang sebelumnya dipakai oleh WTO,” kata Sri Mulyani.

Orang Indonesia pertama  yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, di tahun 2010, mengatakan bahwa negara-negara yang dikenakan tarif timbal balik (resiprokal) AS, harus memutuskan apakah akan berurusan langsung kerja sama dagang secara bilateral, yang jelas-jelas merupakan keinginan AS, atau dilakukan secara kolektif.

“Jadi setiap negara tidak punya pilihan lain, selain bernegosiasi secara bilateral dengan AS. Saya pikir, masing-masing negara akan saling melihat apa yang telah mereka minta dan apa yang mereka dapatkan dari negosiasi ini,” ungkapnya.

750 x 100 PASANG IKLAN

Pages: 1 2
750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
DELTA SYSTECH INDONESIA

Tutup Yuk, Subscribe !