Jakarta,corebusiness.co.id-Jumat ini, 27 Februari 2026, harga minyak melesat naik lebih dari 2 persen, karena para pedagang tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran memperpanjang pembicaraan nuklir.
Kontrak minyak mentah Brent naik $1,49, atau 2,1 persen, menjadi $72,24 per barel pada pukul 12.30 waktu London. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS naik $1,61, atau 2,5 persen, menjadi $66,82.
“Ketidakpastian masih merajalela, rasa takut mendorong harga naik hari ini. Hal ini sepenuhnya dipengaruhi oleh hasil pembicaraan nuklir Iran dan kemungkinan tindakan militer yang mungkin dilakukan AS terhadap Iran,” kata analis minyak di perusahaan pialang PVM, Vamas Varga, dikutip Reuters.
Untuk pekan ini, Brent dan WTI sama-sama diperkirakan akan berakhir dengan kenaikan 0,8%.
AS dan Iran mengadakan pembicaraan tidak langsung terkait masa depan nuklir Teheran di Jenewa, Kamis, 26 Februari 2026, namun berakhir tanpa kesepakatan. Negosiasi yang dimediasi oleh Oman ini berlangsung di bawah tekanan tenggat waktu 15 hari yang diberikan Presiden Donald Trump kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan.
Sementara Iran bersikeras agar pembahasan hanya fokus pada program nuklir, Washington menuntut pembatasan pada program rudal balistik Teheran dan penghentian dukungan terhadap kelompok militan di kawasan.
“Putaran berikutnya kemungkinan akan berlangsung dalam kurang dari satu minggu, diawali dengan pembicaraan teknis di badan nuklir PBB di Wina pada hari Senin,” ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi melalui televisi pemerintah Iran, seperti dikutip Channel News Asia, Jumat, 27 Februari 2026.
Selama pembicaraan tersebut, harga minyak naik lebih dari satu dolar per barel. Harga minyak sempat mereda setelah mediator Oman mengatakan kedua pihak telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan tersebut.
“Kami pikir putaran pembicaraan terbaru menawarkan beberapa harapan tentang peluang penyelesaian damai, tetapi serangan militer sama sekali tidak dikesampingkan,” kata analis DBS, Suvro Sarkar.
Sebelumnya, pada 19 Februari 2026, Trump mengatakan bahwa Iran harus membuat kesepakatan tentang program nuklirnya dalam waktu 10 hingga 15 hari atau “hal-hal yang sangat buruk” akan terjadi.
Seiring pernyataan Trump, kata Sarkar, premi risiko geopolitik sebesar $8 hingga $10 per barel telah memengaruhi harga minyak, karena kekhawatiran bahwa konflik akan mengganggu pasokan Timur Tengah melalui Selat Hormuz, tempat sekitar 20 persen pasokan minyak global melewatinya.
Untuk mengurangi dampak dari kemungkinan serangan, Arab Saudi meningkatkan produksi dan ekspor minyak. Informasi ini diutarakan dua sumber yang mengetahui rencana tersebut kepada Reuters.
Sementara itu, kelompok produsen OPEC+ kemungkinan akan mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 137.000 barel per hari untuk bulan April pada pertemuan 1 Maret, kata sumber, setelah menangguhkan peningkatan produksi pada kuartal pertama. (Rif)