Jakarta,corebusiness.co.id-Harga minyak mentah Brent berbalik positif karena gangguan pasokan—mulai dari pemadaman produksi di Teluk hingga serangan baru terhadap infrastruktur energi regional—lebih besar daripada tekanan dari dimulainya kembali ekspor minyak melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan di Turki oleh Irak.
Tanpa tanda-tanda de-eskalasi dalam konflik Iran, harga acuan Brent berjangka telah berada di atas $100 per barel selama empat sesi terakhir.
Harga minyak Brent berjangka naik 61 sen, atau 0,6 persen, menjadi $104,02 per barel pada pukul 11.55 GMT–waktu Inggris, pada Rabu (18/3/2026), setelah sebelumnya turun ke $100,34 pada sesi perdagangan tersebut.
Sebaliknya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun $1,28, atau 1,3 persen, menjadi $94,93.
Analis Bank Saxo, Ole Hansen, mengatakan perbedaan arah harga kedua kontrak tersebut semakin mencerminkan kredibilitas WTI sebagai kontrak yang sebagian besar berfokus pada AS, sementara gangguan global semakin terlihat melalui Brent, yang diangkut melalui laut
Irak Ekspor Minyak melalui Jalur Pipa
Di Irak, sumber-sumber North Oil Company mengatakan ekspor telah dilanjutkan melalui jalur pipa setelah Baghdad dan Pemerintah Daerah Kurdistan sepakat pada Selasa untuk memulai kembali aliran minyak.
Dua pejabat perminyakan mengatakan pekan lalu bahwa Irak berupaya memompa setidaknya 100.000 barel per hari melalui pelabuhan tersebut.
“Terlepas dari perkembangan ini, bantuan pasokan tetap terbatas, dengan produksi Irak sekitar sepertiga dari tingkat sebelum krisis dan lalu lintas tanker melalui (Selat) Hormuz masih sebagian besar dibatasi,” kata analis MUFG, Soojin Kim, seperti dikutip Reuters.
Produksi minyak dari ladang minyak utama Irak selatan, tempat sebagian besar minyak mentahnya diproduksi dan diekspor, telah anjlok sebesar 70 pers3n menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Hal itu diungkapkan sumber Reuters, pada 8 Maret, karena konflik Iran secara efektif menutup Selat Hormuz yang vital, tempat sekitar 20 persen minyak global melewatinya.
Sementara itu, kantor berita semi-resmi Tasnim mengatakan pada Rabu bahwa beberapa fasilitas milik industri minyak Iran di South Pars dan Asaluyeh diserang pada Rabu, menambahkan bahwa tingkat kerusakan belum jelas.
Aliran Ladang Minyak Shahara Dialihkan
Militer AS mengatakan pada Selasa bahwa mereka telah menargetkan lokasi di sepanjang garis pantai Iran dekat Selat Hormuz karena rudal antikapal Iran menimbulkan risiko bagi pelayaran internasional di sana.
Iran mengkonfirmasi pada Selasa bahwa kepala keamanan mereka, Ali Larijani, telah tewas dalam serangan Israel.
Kepala Peneliti untuk Energi dan Bahan Kimia di China Futures, Mingyu Gao mengutarakan, kematian Larijani dan serangan militer AS terhadap posisi pesisir Iran di dekat selat tersebut meningkatkan harapan bahwa konflik dapat berakhir lebih cepat.
Sementara itu, Perusahaan Minyak Nasional Libya mengatakan pada Rabu pagi bahwa aliran dari ladang minyak Sharara secara bertahap dialihkan melalui pipa alternatif setelah terjadi kebakaran. (Rif)