AidData, sebuah laboratorium penelitian pengembangan internasional berbasis di William & Mary’s Global Research Institute telah melacak pinjaman Venezuela ke China. Terungkap, sebagian hasil tunai dari minyak yang dikirim ke China masuk ke rekening yang dikendalikan oleh Beijing dan digunakan untuk membayar utang.
Kini, pemerintahan Trump mengambil alih hasil dari penjualan minyak Venezuela akan masuk ke rekening berbasis di Qatar, yang dikendalikan oleh Washington. Kebijakan ini berpotensi memberi pengaruh besar Presiden Trump untuk menentukan sendiri atas kreditor mana yang akan dibayar dan kapan akan dibayar.
Menanggapi permintaan komentar mengenai kargo dan pembayaran utang, Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa Beijing telah berulang kali menyatakan posisinya.
“Beijing mengutuk pengalihan ekspor minyak Venezuela oleh AS. Karena itu, hak dan kepentingan sah China dan negara-negara lain di Venezuela harus dilindungi,” kata Kemenlu China dalam konferensi pers 7 Januari 2026.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers mengatakan kepada Reuters bahwa Trump telah menengahi kesepakatan minyak dengan Venezuela yang “akan menguntungkan rakyat Amerika dan Venezuela”.
“Pemerintahan Trump mengizinkan China untuk membeli minyak Venezuela, tetapi bukan dengan harga “tidak adil dan di bawah harga pasar” seperti yang sebelumnya dilakukan Caracas saat menjual minyak mentah tersebut,” kata seorang pejabat AS pada Kamis (22/1/2026).
“Rakyat Venezuela akan mendapatkan harga yang adil untuk minyak mereka dari China dan negara-negara lain,” imbuh pejabat AS tersebut.
Di sisi lain, para pedagang yang mengelola penjualan minyak Venezuela telah menawarkan jasanya kepada kilang minyak China, tetapi ini adalah transaksi pasar swasta, bukan sebagai pembayaran utang. Murni bisnis. (Rif).