160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN
160 x 600 PASANG IKLAN

BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2025 di Kisaran 5,5 Persen

Gubernur BI, Perry Warjiyo
750 x 100 PASANG IKLAN

Jakarta,corebusiness.co.id-Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 berada di kisaran 4,7 persen–5,5 persen.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia ke depan akan lebih baik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan, dengan tetap mewaspadai ketidakpastian global yang tinggi.

Hal itu disampaikan Perry Warjiyo saat menyampaikan sambutan di acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Kantor Pusat Bank Indonesia Jakarta (28/11/2025),

Bank Indonesia, kata Perry, memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 berada di kisaran 4,7 persen–5,5 persen.

750 x 100 PASANG IKLAN

BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi meningkat lebih tinggi pada 2026 dan 2027, masing-masing dalam kisaran 4,9 persen–5,7 persen dan 5,1 persen–5,9 persen. Kenaikan tersebut didukung oleh konsumsi dan investasi yang meningkat, serta ekspor yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi dunia.

Inflasi akan tetap terjaga rendah dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027 didukung konsistensi kebijakan moneter, kebijakan fiskal, eratnya sinergi pengendalian inflasi baik di pusat maupun di daerah, dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional. Stabilitas eksternal dan sistem keuangan tetap terjaga, disertai digitalisasi yang terus berkembang pesat.

“Ke depan, lima tantangan global perlu terus dicermati dan diwaspadai, yakni berlanjutnya kebijakan tarif AS, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, tingginya utang Pemerintah dan suku bunga negara maju, tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia, serta maraknya uang kripto dan stablecoins pihak swasta,” ungkap Perry.

Menurutnya, sinergi merupakan prasyarat dalam memperkuat transformasi ekonomi nasional agar pertumbuhan dapat lebih tinggi dan berdaya tahan.

750 x 100 PASANG IKLAN

Sinergi kebijakan perlu terus diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks, yang meliputi lima area penting, yakni memperkuat stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan.  Meningkatkan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan.  Mengakselerasi digitalisasi ekonomi-keuangan nasional, serta memperkuat kerja sama ekonomi bilateral dan regional.

“Sinergi kebijakan transformasi sektor riil untuk meningkatkan modal, tenaga kerja, dan produktivitas diperlukan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan,” katanya.

Diuraikan, kebijakan transformasi sektor riil ditempuh baik melalui kebijakan industrial maupun kebijakan reformasi struktural, yang saling melengkapi. Kebijakan industrial diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produksi dari sektor-sektor prioritas nasional, termasuk di antaranya hilirisasi khususnya berbasis sumber daya alam, industri teknologi, serta indusri padat karya.

Sementara itu, kebijakan struktural diarahkan untuk perbaikan iklim investasi, persaingan usaha yang sehat, konektivitas infrastruktur, serta penguatan kebijakan perdagangan dan investasi, termasuk melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat-pusat pertumbuhan.

750 x 100 PASANG IKLAN

Bauran kebijakan BI pada tahun 2026 akan terus diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas, dalam sinergi erat dengan bauran kebijakan ekonomi nasional.

Kebijakan moneter pada tahun 2026 diarahkan untuk menjaga stabilitas (“pro-stability”) dengan tetap memanfaatkan ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi (“pro-growth”).

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran pada 2026 tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi (“pro-growth”).

Bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dimaksud didukung dengan akselerasi pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA) sesuai dengan BPPU 2030 untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter, pengembangan pasar sekunder yang modern dan berstandar internasional, serta perluasan instrumen pembiayaan perekonomian. Program pengembangan ekonomi-keuangan inklusif, termasuk UMKM dan ekonomi-keuangan syariah, juga akan terus diperluas.

BI juga terus memperkuat transformasi kelembagaan dengan berfokus pada tiga pilar utama, yakni penguatan fungsi organisasi dan proses kerja yang terintegrasi, percepatan digitalisasi kebijakan dan kelembagaan melalui penyempurnaan business process re-engineering dalam kerangka Integrated Digital Central Bank (IDCB), serta penguatan sumber daya manusia melalui kepemimpinan, pengembangan kapabilitas baru, dan penguatan employee value proposition.

Sejalan dengan upaya transformasi tersebut, BI sepanjang 2025 meraih sepuluh penghargaan internasional yang semakin mengukuhkan citra sebagai salah satu bank sentral terbaik di emerging markets. (Gaska)

750 x 100 PASANG IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
930 x 180 PASANG IKLAN
ANINDYA

Tutup Yuk, Subscribe !