Jakarta,corebusiness.co.id-Kementerian Perdagangan menyatakan komitmen untuk memperkuat perdagangan Indonesia di tengah tantangan perdagangan global. Penguatan tersebut dilakukan dengan mendorong perdagangan baik di dalam maupun luar negeri.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso (Busan) mengungkapkan, kondisi perdagangan global saat ini menghadapi banyak dinamika. Kondisi tersebut ikut memengaruhi kondisi pasar di dalam negeri. Karena itu, perlu dilakukan terobosan-terobosan inovatif untuk meningkatkan daya saing produk lokal. Strategi ini tidak hanya untuk mengisi pasar dalam negeri, tapi juga mendorong ekspor.
“Kita memiliki pasar yang besar. Produk kita harus mempunyai daya saing, sehingga produk kita mampu membendung produk asing,” kata Busan dalam dialog kebijakan (policy dialogue) Indonesia Economic Summit 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Kemendag, kata dia, terus mendorong pelaku usaha lokal agar dapat meningkatkan kualitas produk. Hal ini untuk memastikan produk lokal mampu bersaing dan menguasai pasar dalam negeri. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terus difasilitasi Kemendag untuk mendapatkan tempat di ritel modern. Kemendag telah memfasilitasi berbagai penjajakan bisnis (business matching) antara UMKM dan ritel modern.
“Saat ini, 80 persen ritel modern sudah diisi produk UMKM. Hal ini menunjukkan kalau produk-produk UMKM kita mempunyai daya saing,” ujarnya.
Kemendag juga turut mendorong konsumsi produk dalam negeri melalui berbagai program belanja nasional. Sepanjang 2025, tiga program belanja telah dilaksanakan, yakni Every Purchase Is Cheap (EPIC) Sale dengan total transaksi mendekati Rp55 triliun, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) Rp36 triliun, serta Belanja di Indonesia Aja (BINA) Great Sale Indonesia 2025 Rp31 triliun.
Kemudian, sepanjang 2025, Kemendag berhasil menyelesaikan 5 perjanjian untuk membuka jalan bagi produk lokal di pasar dunia. Terdapat Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA), Indonesia-Canada CEPA, Indonesia-Peru CEPA, Indonesia-Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA), dan Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA).
“Secara keseluruhan, sebanyak 20 perjanjian dagang telah diimplementasikan, 15 perjanjian dalam proses ratifikasi, dan 11 perjanjian masih dalam proses perundingan,” terang Busan.
Busan menyampaikan bahwa fasilitasi ekspor bagi pelaku UMKM didukung 46 perwakilan dagang RI di 33 negara. Sepanjang 2025, program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor telah memfasilitasi business matching yang diikuti oleh 1.217 pelaku usaha. Tercatat, total transaksi sepanjang 2025 mencapai USD 134,87 juta.
“Kami ingin agar pelaku ekspor bukan hanya (pelaku usaha) yang besar. Pelaku usaha menengah dan kecil juga harus bisa ekspor,” ucapnya.
Komitmen memajukan ekspor juga dilakukan di desa melalui Desa BISA Ekspor. Sepanjang 2025, telah terkurasi sebanyak 741 desa yang dinilai siap melakukan ekspor. Selain itu, Campuspreneur yang digagas Kemendag akan memfasiltasi mahasiswa, pengusaha, dan pemerintah daerah untuk belajar ekspor. Kegiatan ini dilakukan dengan program magang di kantor Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri.
Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mencatat nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2025 mencapai US$282,91 miliar atau naik 6,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas naik 7,66 persen menjadi US$269,84 miliar.
Pada Desember 2025, ekspor mencapai US$26,35 miliar, naik 11,64 persen dibanding Desember 2024. Demikian juga dengan ekspor nonmigas Desember 2025 naik 13,72 persen menjadi US$25,09 miliar.
Sementara nilai impor Indonesia Januari–Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar atau naik 2,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sejalan dengan total impor, nilai impor nonmigas naik 5,11 persen menjadi US$209,09 miliar.
Sepanjang Desember 2025, impor mencapai US$23,83 miliar, naik 10,81 persen dibandingkan Desember 2024. Demikian juga dengan impor nonmigas naik 12,46 persen menjadi US$20,48 miliar.
Neraca perdagangan Indonesia Januari–Desember 2025 mengalami surplus US$41,05 miliar yang berasal dari surplus sektor nonmigas US$60,75 miliar, sementara sektor migas defisit senilai US$19,70 miliar. (Rif)