Jakarta,corebusiness.co.id–Pemerintah akan memberlakukan beras satu harga dari Sabang sampai Papua dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram. Ketentuan ini khusus untuk klasifikasi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan bahwa pada prinsipnya Presiden Prabowo, Menko Pangan Zulkifli Hasan, dan Mentan Amran Sulaiman, setuju penerapan beras SPHP satu harga di seluruh Indonesia.
“Untuk itu, nanti kita akan rapat dulu dengan beliau-beliau. (Karena) marginnya kan belum turun. Duitnya untuk subsidi silangnya kan belum bisa, masih tunggu anggarannya dulu. Tapi, pada dasarnya Bapak Presiden setuju, Bapak Menko setuju, Bapak Menteri Pertanian setuju konsep-konsep itu,” kata Ahmad Rizal di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta pada Senin (12/1/2026).
Berdasarkan hitung-hitungan Bulog, begitu beras keluar dari gudang di seluruh daerah harganya sama rata, sebesar Rp 11.000 per kg. Namun, harga ecerannya tetap mengikuti harga eceran tertinggi (HET), yaitu Rp 12.500 per kg.
“Jadi para pengecer (bisa) mendapat keuntungan Rp 1.500 per kilogram,” jelasnya.
Program SPHP satu harga untuk tahun 2026 diperkirakan akan dimulai diterapkan pada Februari 2026. Bapanas sedang memproses untuk pengajuan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Target salur SPHP beras 2026 telah disetujui berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Terbatas Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 29 Desember 2025. Total targetnya sebesar 1,5 juta ton sama seperti target alokasi SPHP beras tahun 2025.
Selain itu, terdapat pula pemutakhiran dan penajaman petunjuk teknis penyaluran beras SPHP tahun 2026 yang sedang digodok Bapanas. Ini agar lebih meningkatkan keberterimaan oleh masyarakat. Salah satunya dengan memperlebar batas maksimal pembelian beras SPHP.
Semula batas maksimal pembelian dua pack per konsumen atau 10 kg). Ke depannya direncanakan batas maksimal pembelian beras SPHP tahun 2026 sebanyak lima pack per konsumen atau 25 kg.
Kendati demikian, selama bulan Januari 2026 ini masyarakat masih dapat merasakan kehadiran beras SPHP di pasaran. Ini karena pemerintah melalui Bapanas memastikan SPHP beras tahun 2025 dapat dilanjutkan hingga 31 Januari 2026 melalui skema Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA) yang telah disetujui Kemenkeu atas usulan Bapanas.
Berkat itu, realisasi penjualan beras SPHP tahun 2025 telah meningkat sekitar 10 ribu ton yang telah kembali digeber sejak 5 Januari 2026. Sampai 12 Januari 2026 total realisasi telah berada di angka 813 ribu ton.
Sementara dalam keterangan persnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendukung realisasi program beras SPHP satu harga. Pemerintah dipastikan hadir untuk seluruh lapisan masyarakat melalui ketersediaan beras dengan harga yang terjangkau.
“Kita ingin harga beras itu sama dengan yang lain. Satu harga seperti bensin. Apakah di Pulau Jawa, luar Jawa, harganya sama, sehingga perlu ada (biaya) transportasi yang ditanggung oleh pemerintah,” ungkap Menko Zulhas.
“Satu harga (beras SPHP) kita akan usahakan di tahun 2026. Ini beras satu harga di manapun berada. Jangan sampai misalnya (masyarakat) Indonesia Timur membayar lebih mahal,” ucap Zulhas.
Terpisah, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong Perum Bulog kembali meneguhkan perannya sebagai penyerap hasil panen petani. Nantinya hasil penyerapan itu yang kemudian akan disalurkan ke masyarakat salah satunya melalui program SPHP beras.
“Kita target serap gabah beras tahun 2026 itu 4 juta ton. Kita kolaborasi. Kita kerja sama. Insya Allah ini tercapai. Kalau ini tercapai, ada sejarah baru bagi Indonesia nanti,” sebut Amran
Amran menyatakan, “Stok beras tertinggi sepanjang sejarah. Di hotel, rumah-rumah, restoran, itu 12 juta ton. Naik 49 persen dari tahun lalu. Jadi teman-teman pengusaha, tolong tidak ada alasan harga naik.”
Adapun rencana penyaluran stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk tahun 2026 antara lain 1,5 juta ton untuk SPHP beras sepanjang tahun 2026. Lalu 720 ribu ton untuk bantuan pangan selama 4 bulan penyaluran. Ada pula alokasi 70 ribu ton untuk bantuan bencana dan keadaan darurat. Di samping itu, direncanakan pula dapat dilepas melalui penjualan ke pasar umum dengan target 600 ribu ton. (Rif)