“SEJAK ribuan tahun lalu, masyarakat Tionghoa telah menjadi bagian dari Nusantara, berinteraksi dan berakulturasi dengan budaya lokal. Sebagai salah satu poros perdagangan dunia, Nusantara menjadi tempat pertemuan berbagai budaya, termasuk Tionghoa yang meninggalkan jejak dalam tradisi, seni, dan kehidupan masyarakat. Akulturasi ini berlangsung secara alami dan terus membentuk identitas bangsa hingga kini.” (Museum Nasional, Pameran “Kongsi: Akulturasi Tionghoa di Indonesia”, 2025).
Penerbit Padasan yang didirikan oleh Chairil Gibran Ramadhan (CGR), sastrawan dan budayawan Betawi asal Kampung Pondok Pinang di Jakarta Selatan, memiliki perhatian khusus pada tema Tionghoa di Nusantara, termasuk tentunya keberadaan kalangan Cina Betawi. Hal ini dimulai sejak menerbitkan buku perdana pada Oktober 2011, melalui buku “Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya ~ Sketsa, Puisi, Prosa ~ 1900-2000”. Dari 10 orang penulis, tiga diantaranya keturunan Cina Betawi: Kwee Kek Beng, Tio Ie Soei, Oom Piet.
Tahun-tahun berikutnya, Penerbit Padasan merancang penerbitan buku-buku ber-ISBN dalam tema sejarah-budaya Bangsa Tionghoa di Batavia dan Nusantara. Namun apa dinyana, kendala pendanaan membuat hal tersebut tidak terwujud dan buku-buku tersebut hanya mengendap dalam bentuk dummy (contoh buku). Lembaga swasta seperti Indonesia Tionghoa (Inti), Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Persatuan Islam Indonesia Tionghoa (PITI), serta kalangan ekonomi kuat dari bidang seni-budaya-sejarah-politik-bisnis yang disangka oleh CGR memiliki nalar budaya dan kedekatan psikologis dengan tema buku, nyatanya tidak ada yang menyatakan ketertarikan.
Mereka sulit mengapresiasi hasil kerja intelektual, namun ironisnya sangat mendukung acara-acara “membakar kembang api” yang tidak meninggalkan bekas apapun meski menghabiskan dana jauh lebih besar.
Penyebaran buku-buku bertema sejarah-budaya Bangsa Tionghoa di Batavia dan Nusantara yang dikemas dalam acara peluncuran dan talkshow serta pemberian awards kepada para tokoh seni-budaya-sejarah-politik berdarah Tionghoa, menurut CGR, selain menjadi ajang penyebaran informasi juga bertujuan untuk menggugah kesadaran kalangan muda dan kalangan tua Tionghoa bahwa mereka miliki akar sejarah-budaya dan politik yang kuat di Nusantara.
Melalui buku-buku ini, mereka diharapkan peduli pada identitas ketionghoaannya. Penyebarannya juga berarti penyebaran nama dan peran pihak-pihak yang mensponsorinya pada dunia intelektual Indonesia.

Buku-buku ini juga sangat dimungkinkan dikoleksi oleh empat kampus Belanda (Leiden University, Erasmus University, Utrecht University, Universitat van Amsterdam,) dan satu kampus di Jerman (Hamburg University). Termasuk tentunya UI, UNJ, dan kampus-kampus lain.
Buku-buku bertema sejarah-budaya Tionghoa di Batavia dan Nusantara yang direncanakan lahir dari rahim Penerbit Padasan adalah: