Jakarta,corebusiness.co.id-Harga minyak pada Jumat, 20 Februari 2026, diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam enam bulan terkahir, dan menuju kenaikan mingguan pertama dalam tiga minggu setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Iran bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi jika negara itu tidak menyetujui kesepakatan nuklir dalam beberapa hari mendatang.
Menukil Reuters, harga minyak mentah Brent turun 8 sen, stabil di sekitar $71,58 per barel pada pukul 1442 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di $66,44. Selama sepekan ini, Brent dan WTI sama-sama naik sekitar 5,3 persen.
“Para pelaku pasar sekarang.masih menunggu perkembangan ketegangan di Timur Tengah hingga akhir pekan ini. Keinginan untuk mengambil keuntungan dan menutup posisi juga terbatas menjelang akhir pekan,” kata analis minyak UBS, Giovanni Staunovo.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi berharap ia akan memiliki draf usulan balasan yang siap dalam beberapa hari setelah pembicaraan nuklir minggu ini. Karena Trump mengatakan dia sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas.
Bertaruh pada Harga yang Lebih Tinggi
Iran, salah satu produsen minyak terbesar yang terletak di seberang Semenanjung Arab, kaya akan minyak di seberang Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Namun, konflik di daerah tersebut dapat membatasi masuknya minyak ke pasar global dan mendorong kenaikan harga.
“Kita sedang menunggu kemungkinan hasil perundingan nuklir Iran dengan AS, apakah kita harus menerima kata-kata Trump apa adanya,” kata Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen.
“Pasar sedang gelisah, ini akan menjadi hari menunggu dan melihat,” imbuhnya.
Analisis Saxo Bank menunjukkan bahwa para pedagang dan investor meningkatkan opsi beli (call option) pada minyak mentah Brent dalam beberapa hari terakhir, dengan bertaruh pada harga yang lebih tinggi.
Laporan tentang penurunan stok minyak mentah dan ekspor yang terbatas di negara-negara penghasil dan pengekspor minyak terbesar di dunia juga mendukung kenaikan harga minyak.
Sebuah laporan dari Energy Information Administration pada Kamis, 19 Februari 2026, menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun sebesar 9 juta barel karena pemanfaatan penyulingan dan ekspor meningkat.
Pasar juga mempertimbangkan dampak dari pasokan yang melimpah, dengan pembicaraan tentang OPEC+ yang cenderung mengarah pada dimulainya kembali peningkatan produksi minyak mulai April.
“Surplus minyak yang terlihat pada paruh kedua tahun 2025 berlanjut pada Januari 2026, dan kemungkinan akan terus berlanjut,” kata analis JP Morgan, Natasha Kaneva dan Lyuba Savinova, dalam sebuah catatan.
“Neraca kami terus memproyeksikan surplus yang cukup besar di akhir tahun ini,” kata mereka, seraya menambahkan bahwa pengurangan produksi sebesar 2 juta barel per hari akan diperlukan untuk mencegah penumpukan persediaan berlebih pada 2027. (Rif)